Showing posts with label Tki / TKW Sukses. Show all posts
Showing posts with label Tki / TKW Sukses. Show all posts

Eks TKW Singapura Meraup Rp 4 Juta Sehari Dari Minimarket



SURYA Online, SURABAYA - Tak semua para TKI pulang tanpa hasil. Banyak pula yang begitu pulang kampung memanfaatkan hasil jerih payahnya untuk membangun usaha, dan berhasil mengentaskan diri dari buruh migran atau Tenaga Kerja Indonesia.

Berbekal keuletan dan ketekunan pasangan suami istri, Puji Lestari (37), mantan TKW di Singapura bersama suaminya Wiwid Setyono (39), mantan TKI Malaysia, akhirnya berbuah sukses.

Setelah merantau untuk mendapatkan modal, pasutri ini menetapkan pilihannya membuka minimarket di tempat tinggalnya Desa Srikaton, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri.

Usaha minimarket ini sukses karena omzetnya setiap hari antara Rp 3-Rp 4 juta.

Sebelumnya, Puji merupakan  pembantu rumah tangga salah satu keluarga di Singapura.

Beruntung majikannya baik hati dan memberikan hak-haknya sebagai pekerja migran.

Hanya saja seenak-enaknya sebagai pembantu tetap saja sering diminta memasak majikannya.

Setiap akhir pekan juga mendapatkan haknya untuk istirahat. “Majikan saya baik hati,” ujarnya.

Dari hasil merantau ke luar negeri itulah akhirnya sedikit demi sedikit menyisihkan uangnya untuk ditabung.

Setelah modalnya cukup, dia pun membuka minimarket yang diberi nama Makmur Lestari.

Baik Puji dan suaminya, Wiwit, kini mantap mengembangkan usaha itu. Dan yang pasti mereka tidak akan kembali keluar negeri.

Puji dan Wiwit merupakan sebagian kecil TKW dan TKI yang mampu meraih sukses.

Cerita sukses juga dilontarkan Abdul Azis Salim Syabibi (40), warga Desa Angon-Angon, Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean, Sumenep, Madura.

Mantan TKI di Malaysia ini, kini menjabat sebagai direktur sebuah perusahaan konstruksi.

Berawal dari putus kuliah di Unmer Surabaya pada tahun 1994 lalu, Azis pun nekat berangkat ke Malaysia.

Ia bekerja sebagai kuli bangunan dengan upah 40 ringgit per hari. Karena otaknya yang encer, dalam enam bulan, ia pun naik pangkat menjadi mandor.

Dari jabatan inilah, prestasi diraihnya, sehingga ia menjadi manajer pembangunan gedung Universitas Islam Antar Bangsa (UIA).

Setelah lima tahun merantau di Negeri Jiran, tahun 1999, Azis memilih untuk balik ke Indonesia.

Saat itu, tabungannya sudah mencapai 70.000 ringgit atau sekitar Rp 400 juta.

“Uang itu saya gunakan  untuk modal usaha, membeli tanah, mobil, serta membangun rumah,” katanya.

Di Sumenep, ia membangun usaha konstruksi berdasarkan pengalaman selama di Malaysia. Usaha itu, kini sudah maju dengan puluhan karyawan.

”Boleh dikata, melalui kerja menjadi TKI di Malaysia ini kami bisa membuka usaha di Sumenep, dan Alhamdulillah berkecukupan,” ujar Azis yang kini menjadi calon legislatif DPR RI ini. (didik mashudi/doni prasetyo/ahmad rivai/david yohanes)   

 

Mantan TKI Taiwan Ini Jadi DPRD Kabupaten Magetan

MAGETAN - Kisah sukses juga dialami Karmini, anggota Komisi D DPRD Kabupaten Magetan.

Mantan TKI di Taiwan ini, kini sudah menjadi politisi PDIP.

Kisah sukses sejumlah purna TKI ini mengilhami Tina (34), warga Gunung Kawi, Kabupaten Malang.

Tina yang sudah enam tahun ini bekerja di Hongkong, tak ingin jerih payahnya mengais rejeki di negeri orang sia-sia.

Karena itu, hasil kerjanya sebagai penjaga anak (baby sitter) di Hongkong dijadikan modal usaha kopi luwak di sekitar Gunung Kawi.

“Kalau mau menuruti kemauan, di sana (Hongkong) pergaulannya bebas. Mau cari senang seperti apa keturutan,” katanya.

Dengan uang yang dikumpulkan selama tiga tahun, Tina membeli sebidang tanah di Gunung Kawi.

Di tanah tersebut sudah ada ratusan batang pohon kopi yang mulai berproduksi.

Kebun kopi tersebut dipercayakan kepada bapaknya, yang sebelumnya sebagai buruh tani.

Tina juga mengupah pekerja untuk mengelola kebun kopi yang dilengkapi kandang luwak.

“Setiap hari luwaknya diberi makan buah kopi yang sudah matang. Jadilah sisanya kopi luwak yang mahal,” ujarnya.

Karena masih tahap ujicoba, produksi kopi luwak masih hanya beberapa kilo per bulan.

Apalagi ada kendala luwak yang mati. Namun usaha baru ini sudah menjanjikan untuk jadi sandaran penghasilan sepulang dari Hongkong. (didik mashudi/doni prasetyo/ahmad rivai/david yohanes) 

 

Wahyudi Chandra, Potret TKI Sukses di Hong Kong

Untuk BMI yang bekerja di Hong Kong, pasti tak asing dengan nama Chandra. Yup, ada rumah makan Chandra dan ada juga Chandra Remmitance. Adapula toko Chandra yang menjadi tempat tujuan saya setiap habis menerima gaji. Disana, saya biasa kirim uang dan membeli beberapa produk dari Indonesia, terutama kerupuk. Tapi, siapakah sebenarnya pendiri Rumah Makan Chandra, Toko Chandra dan Remmitance Chandra?


Dia adalah salah seorang TKI yang sukses. Wahyudi Chandra namanya, beliau berhasil dan sukses mempunyai minimarket yang menjual berbagai macam produk buatan Indonesia di Hongkong.

Tak selamanya TKI bernasib kurang baik. Banyak pahlawan devisa itu memetik kesuksesan di negara lain dengan menjadi seorang pengusaha seperti dialami oleh Wahyudi Chandra Jakarta, BNP2TKI, Senin (17/9) .

Kesuksesannya bukan terjadi secara instan. Dulu, sekitar awal 1990-an, Chandra bekerja di Hong Kong hanya sebagai penjual makanan, koran, dan kaset dengan berkeliling di Victoria Park. Tapi itu dulu, sekarang Chandra telah sukses memiliki minimarket.

Lokasi minimarket Chandra di Causeway Bay yang strategis membuat banyak BMI yang mengunjunginya. Para pengunjung juga bukan hanya dari kalangan BMI saja, adapula dari warga Hong Kong yang sengaja membeli produk Indonesia di Chandra. Selain membeli berbagai keperluan, adapula yang mengirim uang ke kampung halaman melalui jasa pengiriman uang di Chandra, saya juga selalu mengirim uang lewat Chandra. Selain prosesnya cepat, nilai tukarnya juga lebih tinggi dibandingkan mengirim uang lewat Bank.

Jangan kaget pula tiap akhir pekan, pemilik toko pasangan Wahyudi Chandra dan Bekti Dwi Wahyuni itu kadang terlihat didepan toko Chandra, hanya sekedar untuk menyapa para BMI yang mampir di tokonya. Ia juga berniat memberi motivasi pada BMI agar para BMI mau serta mampu mengubah nasib dengan meningkatkan dan menambah keahlian seperti dirinya.

Pada tahun 1997, seperti dikutip dari Liputan6.com, Chandra mulai membuka minimarket pertamanya. Setelah 15 tahun, Chandra telah mempunyai 16 minimarket yang tersebar di wilayah Kowloon, Hong Kong Island, dan New Teritorry.

Bisnis Chandra kian hari kian berkembang dan merambah ke bidang lain, seperti biro perjalanan, money changer, Balai Latihan Kerja, hingga pengiriman uang dan paket barang. Dan tidak kurang dari 30 ribu transaksi per bulan dengan omzet triliunan rupiah per tahun. Wow !!!

Menurut Chandra, keberhasilan yang diraihnya bukanlah hal mudah. Menurut bapak dari tiga anak ini, perjuangan meraih kesuksesan sangat sulit, terutama pada saat perjuangan mendapatkan visa investor. Namun, Chandra bukan tipe orang yang mudah menyerah. Ia mengirimkan surat permohonan ke Gubernur Hong Kong lewat pengacara dan akhirnya berhasil mendapatkan izin usaha di Hong Kong.

Kini, Chandra telah membuka dua buah restoran masakan Indonesia dengan harga yang cukup terjangkau. Dari usaha bisnisnya ini, tak kurang dari 50 karyawan asal Indonesia dan Hong Kong menjadi karyawannya.



Bambang Isyanto; Sosok TKI Sukses di Brunei Darussalam

Bambang Isyanto tergolong tenaga kerja asal Indonesia sukses di Brunei Darussalam. Dia mengelola puluhan hektar kebun sayur yang hasilnya dipasok ke berbagai pasar tradisional dan swalayan di Bandar Seri Begawan. Perlu perjuangan berat untuk bisa seperti sekarang. Bagaimana ceritanya?
HERIYANTO, Bandar Seri Begawan

PEKERJA keras dan pantang menyerah. Itulah sosok Bambang Isyanto, 40 tahun, warga Indonesia yang kini menetap di Brunei Darussalam. Dengan berbekal dua hal itu, Bambang mampu menaklukkan Brunei Darussalam. Saya bertandang rumah Bambang di Kampung Pangkalan Batu, Brunei Darussalam pekan lalu. Di rumah bertingkat dua itu Bambang tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Ini rumah yang cukup besar. Dari depan, rumah ini terlihat mentereng. Di halaman rumah terparkir sejumlah mobil milik Bambang. “Butuh perjuangan sangat berat untuk bisa sampai seperti ini,” kata Bambang saat berbincang di rumahnya itu.

Bambang berangkat ke Brunei pada tahun 2000. Saat itu, usai menamatkan kuliah di Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura, Pontianak seseorang menawarinya untuk bekerja di Brunei Darussalam. Tugasnya membina para petani di negara itu.

Sebagai lulusan sarjana pertanian, tak ada alasan bagi Bambang untuk menolak tawaran itu. Apalagi, dia ditawari gaji yang sangat tinggi. Sudah terbayang di benak Bambang akan suasana yang nyaman di negeri orang. Apalagi dia bisa mempraktekkan ilmu yang telah ditimbanya selama beberapa tahun di kampus. 

Tetapi sesampai di Brunei, bukannya mendapat gaji yang tinggi, Bambang justru terlantar. Semua yang dibayangkannya buyar. “Saya kena tipu. Diiming-imingi gaji besar, rupanya sampai di sini ditaruh di hutan, tidak diberi makan. Saya disuruh garap ladang, tapi masih hutan,” kata Bambang mengingat saat awal merantau ke Brunei.

Saat itu ada dua orang yang berangkat bersamanya dari Pontianak. Sama seperti Bambang dua temannya itu juga ditawari untuk membimbing para petani di Brunei. Tapi karena tak tahan, dua rekannya itu memutuskan pulang ke Pontianak. Sementara Bambang nekad bertahan di Brunei. “Sudah kepalang tanggung. Malu kalau pulang ke Pontianak,” kata Bambang.

Selama dua tahun, Bambang tinggal di sebuah gubuk di ladang garapannya. Sehari hanya makan sekali. Itupun makan nasi yang keras dan mi instan yang sudah kedaluwarsa. Meski begitu Bambang tetap bertahan. Beruntung Bambang ditolong seorang warga Sabah, Malaysiayang meminjaminya uang untuk bertahan hidup.

Setelah  dua tahun lahan garapannya mulai menunjukkan hasil. Bambang sudah mulai memanen hasil tanamannya. Hasil panennya itu dijual ke sejumlah pasar di Bandar Seri Begawan. Tapi perjuangannya tidak sampai di situ. Bukannya memberi gaji, bos pemilik lahan itu justru meminta jatah dari penjualan sayur mayur.

Sempat putus asa, Bambang memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Tapi sebelum pulang, seorang warga Brunei yang mengenal Bambang, menawari Bambang untuk menikahi anaknya. Orangtua itu mengenal Bambang sebagai sosok pria yang ulet dan rajin. Karena itu dia tertarik menjodohkan Bambang dengan anaknya. Saat itu Bambang sempat menolak dengan alasan dia hendak pulang ke Indonesia.

“Saya dipertemukan dengan gadis itu. Dia orang sini (Brunei). Saya bilang ndak mau, saya mau balik ke Indonesia. Cari saja orang Brunei, kata saya. Dia bilang sudah cari orang Brunei tapi tidak sesuai dengan hati,” cerita Bambang.

Akhirnya setelah mempertimbangkan masak-masak, Bambang bersedia menikahi gadis itu. Namanya Fatimah Binti Haji Besar, seorang gadis solehah yang berpendidikan tinggi. Sejak itulah Bambang menetap di Brunei Darussalam. Dari hasil pernikahan itu, Bambang dikaruniai lima anak, yakni Hessa, Azziyati, Wafig, Nusaibah, dan Afifah.

Bambang diserahi tugas untuk mengelola kebun sayur milik mertuanya. Dengan sungguh-sungguh Bambang menggarap lahan itu sehingga kemudian menghasilkan panen yang melimpah. Saat ini ada puluhan hektar lahan yang digarapnya. Ada berbagai jenis sayuran di sana, mulai dari kangkung, cabai, kacang panjang, pisang, lengkuas, hingga mentimun. Dari kebun itu ratusan kilogram sayuran dihasilkan setiap harinya. Sayuran itu didistribusikan ke sejumlah pasar dan swalayan di Bandar Seri Begawan.

Dari hasil panen sayur itu Bambang mampu membeli beberapa mobil dan membangun rumah. Saat saya mengunjungi rumahnya pekan lalu, sejumlah mobil tampak parkir di depan rumahnya. Dua diantaranya Pajero dan Lexus. Saat berangkat ngantor ke kebun sayurnya, Bambang kerap menggunakan mobil mewah itu. Mobil itu juga kerap digunakan untuk mengangkut hasil panen sayurnya. Mobil itu memang tangguh untuk mengangkut beban berat. Sementara itu, mobil Lexus miliknya biasa dipakai untuk mengantar atau menjemput anak-anaknya.

Bambang merasa bersyukur diberi rezeki yang cukup. “Sejak kecil saya sudah berjuang sendiri. Berat hidup saya. Saya merasa belum ada orang yang pernah hidup sesusah saya. Sekarang Alhamdulillah. Allah berikan kemudahan,” kata anak kedua dari tujuh bersaudara itu.

Kini, Bambang punya lima anak buah yang membantunya menggarap kebun sayur. Selama ini sudah puluhan orang dari Indonesia yang bekerja padanya. Banyak yang sudah berhasil dan pulang ke kampung halaman. Sudah banyak yang mampu membuat rumah dan menyekolahkan anak. “Saya bersyukur bisa membantu orang lain,” kata pria kelahiran Malang, Jawa Timur itu. 

Meski memiliki istri warga Brunei, Bambang masih berstatus warga negara Indonesia. Saat ini dia memang belum bisa mengajukan status sebagai warga negara Brunei. “Di sini harus tinggal belasan tahun baru bisa jadi warga negara Brunei,” tambahnya. Bambang masih belum memutuskan apakah akan selamanya tinggal di Brunei atau suatu saat memboyong keluarganya ke Indonesia. “Yang penting saat ini saya jalani saja hidup. Semoga semuanya baik-baik saja,” katanya. (*)


Muhaimin Kunjungi Rumah TKI Sukses di Cilacap

REPUBLIKA.CO.ID,  CILACAP -- Dalam kunjungan kerja ke Cilacap Provinsi Jawa Tengah, Menakertrans Muhaimin Iskandar menyempatkan diri untuk menyatroni salon kecantikan milik Mantan TKI Arab Saudi yang telah mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Muhaimin berharap banyak TKI yang kembali ke tanah air dan memilih untuk berwirausaha  sehingga bisa membuka lapangan pekerjaan baru di kampungnya masing-masing.
"Kita memberikan penghargaan khusus bagi TKI/TKW yang bekerja di Arab Saudi selama 20 tahun di Salon. Ibu Prapti Zaenab (49 Tahun) yang telah berhasil akhirnya menjadi tenaga profesional yang juga akhirnya mendirikan salon ini yang patut menjadi contoh semua agar mampu meningkatkan keterampilan. Yang penting kata kuncinya keterampilan. Keterampilan menjadi syarat untuk mandiri," kata Muhaimin di Cilacap Provinsi Jawa Tengah (12/12).

Muhaimin berharap dengan semakin banyaknya tenaga kerja terampil, maka SDM Indonesia akan semakin maju dalam berbagai bidang.

"Kepada seluruh warga masyarakat jangan berhenti belajar. Datanglah ke dinas/kemenakertrans, kita beri pelatihan untuk semakin terampil," kata Muhaimin. dikutip dari keterangan resmi Humas Kemnakertrans kepada ROL, Kamis (12/12).

Dalan kesempatan itu, Muhaimin juga disuguhi air Zamzam yang dibawa oleh Suprapti sendiri dari Arab Saudi. Suprapti yang telah bekerja di Arab Saudi selama 20 tahun kini telah membuka salon dan memilih menetap di Cilacap.

Suprapti mengaku selama menjadi TKI, ia tidak pernah mengalami masalah.

"Yang penting kita kerja di luar negeri dengan mengikuti prosedur yang benar," kata Suprapti.

Frans Hurek TKI yang Sukses di Malaysia

Kita sudah bosan mendengar cerita tentang TKI, tenaga kerja Indonesia, yang dianiaya majikan di Malaysia. Disetrika. Dideportasi. Terlibat kasus kejahatan. TKI yang dilecehkan sebagai Indon yang bodoh di Malaysia.

Syukurlah, saat berlibur ke Nusa Tenggara Timur, tepatnya Kabupaten Lembata, saya mendengar versi yang lain tentang TKI. Bukan sekadar cerita, tapi bukti nyata. Bahwa TKI kita pun ada yang sukses di Malaysia. Dan yang bercerita itu Frans Asan Hurek.

Begitu antusiasnya Frans bercerita dilengkapi foto-foto dari perangkat gadget-nya, Samsung versi baru. "Di Malaysia sedang tren," kata teman yang jago bicara itu.

Bertahun-tahun si Frans ini sempat hilang dari peredaran bagaikan ditelan bumi. Dan, seperti biasa, banyak tuturan yang tidak jelas yang dikembangkan orang di Ileape, Lembata. Ceritanya seram-seram meski sumbernya tidak jelas.

Hingga suatu ketika Frans 'yang hilang' di Sabah, Malaysia, itu pulang berlibur di kampung. Bawa istri yang cantik, yang gayanya khas wanita kota di Lahad Datu, Malaysia Timur, plus anak yang gizinya bagus. Berbeda dengan TKI-TKI lain yang naik kapal laut, Frans selalu pakai pesawat.

Tinggal sebulan di kampung halaman, Desa Napasabok, Kecamatan Ileape, Lembata, NTT, bertemu ibunda yang sudah tua, Frans juga melakukan survei. Bikin desain rumah yang megah layaknya orang kaya di kota. Kembali ke Kota Lahad Datu, Frans secara teratur mengirim material dan uang yang diperlukan untuk bikin rumah mewahnya.

Sekarang rumah itu sudah jadi. Bentuknya rada nyeleneh, eksperimental, layaknya seniman yang kelebihan uang. Yah, Frans Hurek ini memang lagi mandi ringgit berkat usaha konstruksi kelapa sawit.

Dia dapat banyak job membuat pabrik-pabrik pengolahan kelapa sawit di Lahad Datu dan beberapa kawasan di negara bagian Sabah. Juga bikin instalasi air bersih untuk pekerja di kebun-kebun sawit. Dengan bangga Frans menunjukkan kepada saya mesin-mesin pengolah sawit yang rumit.

"Saya ini orang konstruksyen. Setiap hari saya keliling untuk melihat saya punya proyek di mana-mana tempat lah," ujar Frans dalam logat campuran Lembata + Malaysia Timur.

Malaysia Timur sejak dulu dikenal sebagai wilayah yang berjaya berkat kelapa sawit, karet, dan komoditas perkebunan. Maka, saya bisa membayangkan betapa banyaknya konstruksyen (konstruksi) yang harus digarap pengusaha TKI macam si Frans ini. Sungai Ringgit tentu mengalir deras ke kantongnya.

Karena itu, saya akhirnya percaya dengan begitu banyak cerita petulangannya ke tempat wisata yang mahal. Sekali makan bersama istri dan anak bisa habis Rp 2 juta. Ongkos perahu motor ke Pulau Komodo yang jutaan rupiah pun dianggap uang recehan saja.

Wow, Frans Asan Hurek, TKI yang unik! Malam itu mata saya sudah berat. Tapi presentasi Frans dan cerita suksesnya membuat saya terbelalak Saya biarkan dia cerita sepuas hati. Apalagi sudah beberapa tahun teman, sesama marga Hurek, ini tak pernah. berjumpa.

Frans punya kebanggaan sendiri karena sekarang dia sudah punya semacam monumen di kampung halaman. Yakni sebuah rumah bergaya kelas atas, mewah untuk ukuran Flores, yang bisa dilihat setiap waktu. Itu menjadi bukti bahwa TKI di Malaysia pun ternyata bisa berhasil.

Bukan TKI ala Flores Timur dan Lembata yang pulang sekejap, ringgit habis sebulan, kemudian balik lagi ke Malaysia Timur. Dan tak pernah kembali lagi ke kampung. Hingga akhirnya kita dapat kabar bahwa si X sudah meninggal dunia.

Frans malah secara tegas mengecam TKI-TKI yang lupa kampung halamannya. Jumlahnya cukup banyak. Mereka malah kerap lupa bahasa daerah. Bergaya layaknya orang Malaysia. "Saya paling jengkel dengan orang seperti itu," ujar Frans seraya menyebut beberapa nama teman SD di kampung dulu.

Lantas, bagaimana Frans bisa mandi ringgit, sementara TKI-TKI lain biasa-biasa saja, bahkan terpuruk?

Jawabnya: kerja keras, kerja cerdas, dan nasib baik.

Frans beruntung dapat jodoh seorang wanita cantik, pengusaha, warga negara Malaysia. Bisnis sudah menjadi darah daging istrinya. Beristrikan wanita tempatan berarti sama dengan dapat lisensi untuk buka usaha apa saja. Samalah dengan warga negara Malaysia.

Selama belasan tahun Frans menjadi pekerja pabrik kelapa sawit. Bekal ilmu dari SMK terkenal di Flores Timur membuat dia sangat menguasai cara kerja mesin-mesin pengolahan minyak kelapa sawit. Teknik pasang instalasi, filter, dan sebagainya dia kuasai secara sempurna.

"Tapi saya ditipu si tauke. Gaji saya tidak dibayar," tuturnya.

Kecewa berat, Frans kemudian belajar membuka usaha konstruksi pabrik sawit dari nol. Fotonya diperlihatkan kepada saya. Awalnya sih susah mencari order. Tapi perlahan-lahan orang Malaysia Timur mulai menggunakan jasanya. Bahkan dia sempat diajak mengerjakan pabrik di Kalimantan Utara, Indonesia.

"Ini fotonya. Kalau tidak ada foto, engkau tidak akan percaya," kata Frans seraya tersenyum.

Begitulah. Singkat cerita, Frans pun berubah menjadi tauke baru, pengusaha konstruksi di Kota Lahad Datu, Malaysia Timur. Selain tambah makmur, mandi ringgit, tubuhnya makin gemuk dengan perut yang buncit.

Sebagai bos yang berlibur Natal dan tahun baru di kampung, Frans tak lupa membawa seperangkat kembang api yang megah ala show-show besar di kota. Pada malam tahun baru kembang api itu dinyalakan dan menjadi tontonan orang kampung.

"Saya kembali ke Malaysia, tapi saya sudah komitmen untuk pulang kampung dua tahun sekali," ujar Frans ketika berpamitan dengan saya.

Mengapa tidak tiap tahun saja pulang? Ringgit kan banyak?
"Wah, saya harus gantian dengan yang lain. Sebab, proyek konstruksyen di Lahad Datu harus jalan terus," katanya.


Jacky, Mantan TKI Taiwan yang Sukses Bangun Bisnis di Kampung Halaman

Tidak semua mantan tenaga kerja Indonesia (TKI) mentalnya drop ketika harus kembali ke Tanah Air, contohnya Jacky. Ia adalah mantan TKI di Taiwan yang menganggap banyaknya pandangan miring terhadap TKI tidak semuanya benar. Dibuktikannya, sepulangnya jadi TKI, Jacky merintis usaha dan sukses di kampung halamannya.

Meski pernah jadi TKI, Jacky tidak ingin dipandang sebelah mata bahkan diremehkan orang. Ia berusaha mencari peluang dan membuktikan kepada masyarakat. “Saya hanya tidak ingin dianggap sebelah mata. Saya buktikan sepulang jadi TKI di Taiwan dan merintis bisnis” papar Jacky seperti dilansir Liputan6.

Empat tahun bekerja di sebuah pabrik ban di Taiwan dengan gaji 6 juta per bulan, cukup membuatnya belajar banyak hal. Seperti yang dikisahkannya saat masih bekerja, ia tertegun melihat ibu hamil yang masih giat bekerja, padahal usia kandungannya sudah memasuki 9 bulan.  Ia terinspirasi dengan ibu hamil itu, dan dari kejadian itu tekad Jacky bertambah sehingga menanamkan displin, giat bekerja, dan tidak mudah menyerah. “Semangat kerjanya tinggi di Korea, saya lihat wanita hamil 9 bulan masih kerja” ungkapnya.

Memang permulaannya tidak semudah yang diucap, pulang bawa uang lalu buka usaha. Ternyata Jacky pun pernah merasa bingung saat menentukan usaha apa yang akan ia rintis. Namun ia yakin, apapun bisnis yang dibangun dan diniati dengan tekad bulat pastinya akan berhasil. Ayah 3 anak ini semakin bersemangat karena keluarga besar sangat mendukung niatnya menjadi pengusaha material bangunan rumah.

Tahun 2000, bermodal uang yang dikumpulkan selama menjadi TKI, Jacky membuka toko material di atas tanah seluas 1.300 meter. Kian hari usahanya maju, dan saat ini sudah memiliki 8 karyawan. Disamping membuka toko material, Jacky juga memproduksi batako dan gypsum. Setiap bulannya Jacky mengaku mendapat pesanan lebih dari 1.000 batako, dimana harga per 1 batako Rp 3.500 sementara modal per 1 batako Rp 2.300.

Sukses dengan usahanya material bangunan, batako, dan gypsum, kini Jacky juga tengah mempersiapkan usaha barunya yaitu memproduksi genteng rumah atau atap. “Ke depan saya juga sudah siap memproduksi genteng. Diperkirakan modalnya 400 juta untuk beli alat cetak” paparnya.

Kesuksesan mantan TKI ini diharapkan dapat menginspirasi banyak TKI yang ingin merubah nasib dan bangkit memberdayakan masyarakat sekitar dengan membuka lapangan pekerjaan. Melihat kesuksesan Jacky sang mantan TKI, Kepala BNP2TKI merasa perlu memasukkan kisah Jacky ke dalam buku 100 orang Purna TKI sukses yang diharapkan bisa menginspirasi TKI lainnya. Kini siapa yang tak kenal Jacky si Bos Material dari Desa Jambon.

Untuk share  artikel ini, Klik www.KabariNews.com/?57465

H. Abdurrahman TKI Madura Sukses Jadi Pengusaha

Sumenep, BNP2TKI (02/08) -- Kisah sukses H. Abdurrahman ini, kiranya perlu ditularkan dan bisa menjadi motivasi bagi para tenaga kerja Indonesia (TKI), khususnya TKI di wilayah Madura yang dikenal banyak memburu Ringgit di Malaysia, dan Riyal di Arab Saudi. Pasalnya, semasa dia memburu Ringgit di Malaysia selama empat tahun pada awal 1990-an lalu telah membuahkan sukses gemilang dengan mengubah jalan hidupnya menjadi pengusaha produsen tahu.
Haji Durahman, begitu sapaan akrab H. Abdurrahman, menuturkan, pada 1984 lalu dirinya seakan tertantang ketika ditawari temannya dari Desa Lalangon, Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. “Waktu itu saya ditawari alat pembuat tahu yang masih sederhana. Tetapi, saya tidak memiliki cukup uang untuk membelinya dan sekaligus modal untuk membuat tahu. Sejak itulah, saya merasa tertantang untuk memiliki alat pembuat tahu tersebut,” ungkap Haji Durahman menceritakan kenanangan pahit masa lalunya, belum lama ini.
Lantaran tidak ada uang untuk membeli alat pembuat tahu itu, Haji Durahman kemudian nekat mengadu nasib menjadi TKI ke Malaysia pada awal 1990-an. Ia geluti dengan tekun bekerja di Malaysia itu, guna mengumpulkan Ringgit untuk kemudian bisa membeli alat pembuat tahu plus untuk modalnya.
“Kesuksesan usaha membuat tahu yang dijalaninya bertahun-tahun hingga seperti sekarang ini, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, membutuhkan proses panjang dan pengorbanan,” kata Haji Durahman yang kini menjadi pemilik perusahaan tahu di Desa Paberasan, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep ini.
Menurutnya, keberhasilan usahanya sekarang ini sebenarnya tidak datang begitu saja serta berkat perjuangan dirinya sendiri semata. “Namun, usaha yang saya jalani ini dilatar belakangi saudara-saudara yang ingin membangun dari ketidak berdayaan, karena tidak memiliki pekerjaan,” ujarnya.
Haji Durahman menjelaskan, dirinya sebenarnya ingin memulai usaha membuat tahu sejak1984 lalu. Akan tetapi, karena modal kecil dan semangat juga kecil, usahanya waktu itu hanya berjalan 2 tahunan. Ia pun nekat pergi ke Malaysia, dan selama 4 tahunan di Malaysia lelaki asal Desa Kalianget Timur ini ternyata bisa mengumpulkan uang untuk menunaikan ibadah haji.
Sepulang dari ibadah Haji, Haji Durahman semakin memantapkan tekadnya untuk memulai kembali usaha membuat tahu yang sempat ditinggalkannya itu. “Sebenarnya, awalnya susah untuk memulai kembali usaha yang membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit itu. Disamping juga harus memiliki tempat pembuangan limbah, agar tidak bau. Apalagi rumah saya berdampingan dengan saudara dan tetangganya,” tutur Haji Durahman.
Syukurlah, sejak tahun 2004 lalu, berkat tekatnya yang kuat dan dukungan para saudaranya yang membantu pembuatan serta sebagian di bagian pemasarannya, maka menjadikan banyak tetangganya yang tertarik menjadi penjual tahu produknya.
Sekarang, dari usaha pembuatan tahu itu, sedikitnya ada 10 hingga 12 orang pedagang sayur yang mengambil tahu di tempat Haji Durahman. Disamping itu, pihaknya juga selalu menyisakan untuk pelanggan yang biasa membeli langsung ke pabriknya untuk kebutuhan yang besar maupun untuk konsumsi keluarga.
Yang membikin lega Haji Durahman saat ini adalah, dari usahanya ini, ia bisa memberikan pekerjaan kepada 6 orang karyawannya yang bekerja secara bergantian setiap hari. Setidaknya, ia mengaku bisa menciptakan tenaga kerja dari hasil pengalaman menjadi TKI di luar negeri. “Semua sudah ada yang mengatur, hanya manusia harus ikhtiar untuk berharap rizki dari Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, agar diberikan kelancaran dalam berusaha,” pungkasnya.***(Imam Bukhori)

Edi Suryadi TKI Sukabumi Sukses jadi Pengusaha Mobil

Edi Suryadi (46), warga Kampung Cirendeu RT 03 RW 03 Desa Mekarsari, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. Edi pernah menjadi TKI selama empat tahun di Arab Saudi. Keberangkatan Edi menjadi sopir di negeri orang pada 2000 lalu itu hanya semata untuk mencari modal usaha di negara sendiri. Setelah modal terkumpul, Edi kembali pulang ke Tanah Air pada 2004.
Berbeda dengan TKI lainnya, sebelum berangkat ke luar negeri, Edi telah menguasai bahasa Arab. Pemahaman bahasa Arab diperolehnya ketika belajar di madrasah. "Kemampuan bahasa menjadi modal utama bekerja di luar negeri," tutur Edi.  Jika tidak mampu menguasai bahasa negara tempat bekerja, maka potensi untuk dibohongi dan diperlakukan kasar sangat besar terjadi.
Kemampuan bahasa itu pula yang menjadikan penghasilan Edi lebih besar. Pasalnya, Edi sempat menawar gaji yang ditawarkan kepadanya. Awalnya, gaji yang diberikan hanya sebanyak 800 riyal Saudi per bulan. Namun, Edi meminta sebesar 1.200 riyal per bulan. Permintaan itu disanggupi oleh majikannya di Arab Saudi.
Dampaknya, kata Edi, setiap empat bulan sekali dia bisa mengirimkan uang sebesar Rp 10 juta ke tanah air. Uang itu ditabung oleh istrinya, Eti Budiati (40) untuk modal usaha membuka showroom mobil.
Setelah empat tahun bekerja di Arab Saudi, kata Edi, dia memutuskan untuk pulang ke tanah air. Uang yang ditabungnya selama ini dijadikan modal usaha membuka showroom mobil bekas dan baru di tempat tinggalnya.
Hasil menjadi TKI pun dapat digunakan untuk membiayai anaknya hingga kuliah di perguruan tinggi. Bahkan, Edi sanggup membeli sawah dan mobil pribadi. Meskipun berhasil bekerja di luar negeri, namun Edi enggan kembali ke Arab Saudi. "Bekerja di dalam negeri lebih nyaman," prinsip dia.
Sumber : republika.co.id

TKI Lampung Jadi Pengusaha Sukses Toko Bangunan dan mendirikan Pasar TKi di Lampung


Imam Nahrawi, mantan TKI dari Korea Selatan, kini menjadi pengusaha sukses di kampung halamannya, Way Jepara, Lampung Timur. Imam memiliki toko bahan bangunan, ruko, dan aset lain senilai total Rp 2,1 miliar. Namun, yang membuatnya tersohor adalah suksesnya mendirikan pasar TKI di Labuhan Ratu, Lampung Timur. Dia mendirikan pasar dengan 70 toko yang semua penjualnya adalah mantan TKI.
Pergi untuk menjadi TKI memang harus punya target. Setidaknya hal itu yang diyakini Imam Nahrawi sebelum memutuskan menjadi TKI di Korsel tahun 2000. Imam berangkat menjadi TKI ke Korea Selatan dengan target untuk mengubah kehidupan, karena gaji sebelumnya sebagai  pekerja di pabrik pengolahan pisang,  dirasa tidak kunjung cukup.
“Istri saya sempat berpesan dan memberi saya 2 pilihan saat akan berangkat yaitu, pulang dan berhasil membuat iri tetangga karena sukses, atau pulang dengan malu karena disorakin tetangga karena tidak sukses,” tutur Imam.
Berbekal pesan dari sang istri tadi, Imam pun bekerja di perusahaan tekstil di Pusan, Korea Selatan. Tekad, usaha keras dan kejujuran yang membuat Imam bisa mengumpulkan banyak modal untuk menjadi pengusaha di tanah kelahirannya, setelah ia kembali dari korea tahun 2002. Kini Imam memiliki sejumlah usaha. Semua asset yang dibangun dari modal gaji yang dia kumpulkan selama bekerja di Korea itu, kini mencapai milyaran rupiah.
Uniknya  lagi, Imam kini membangun sebuah pasar yang diperuntukan bagi para mantan TKI. Pendirian pasar ini katanya, merupakan wujud prihatin karena banyak ditemukan mantan TKI yang kembali miskin setelah pulang ke kampung halamannya, akibat para mantan TKI berperilaku konsumtif dan tidak bisa mengelola uang hasil jerih payah selama bekerja di luar negeri.
“Pasar itu untuk memotivasi mereka agar tidak lagi menjadi TKI dan sukses berwirausaha,” katanya.
Sukses pria yang orang tuanya berasal dari Blitar itu bisa menjadi contoh dan pelecut para TKI yang ingin sukses di kampung halaman.
Sumber : indonesiaproud.wordpress.com

Mantan TKI Malaysia Jadi Pengusaha Roti Sukses

Tahun 1998 Mistar adalah pemuda gamang yang baru lulus diploma tiga Jurusan Tata Niaga, Akademi Maritim Belawan, Sumatera Utara. Krisis ekonomi di dalam negeri membuat dia memutuskan bekerja di Malaysia sebagai tenaga kerja Indonesia atau TKI. Kini, Mistar dikenal sebagai pengusaha roti dengan 70 karyawan yang bergantung pada usahanya itu. Usaha roti berlabel Family milik Mistar terletak di Dusun V, Pasar I, Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Hinai, Kabupaten Langkat, Sumut. Rumah sekaligus pabrik rotinya itu dipenuhi dengan tumpukan kayu bakar dan berkarung-karung roti kering retur.
”Sebenarnya banyak mantan TKI yang berhasil. Beberapa teman saya dulu juga sudah membuka usaha sendiri dan maju,” tutur Mistar, bapak dua anak itu, merendah.
Selepas menyelesaikan program D-3, Mistar mengaku bingung mau bekerja apa dan di mana. Apalagi saat itu tahun 1998, Indonesia tengah dilanda krisis moneter dan banyak karyawan yang justru terkena pemutusan hubungan kerja, termasuk sang ayah, Muhammad Sari, dan pakciknya, Suryadi.
Mereka semula bekerja di sebuah pabrik roti di Tanjungpura. Toko roti itu tutup. Sang ayah lalu membuka kedai kebutuhan pokok di rumah mereka yang berbatasan dengan kebun kelapa sawit PTPN II Tanjung Beringin, sedangkan Suryadi bekerja mocok-mocok pada orang lain. ”Saya sempat mau bekerja di pabrik elektronik di Tanjung Morawa,” kata Mistar.
Namun, saat dia hendak mengikuti pelatihan ke Jakarta, tes kesehatannya tidak memenuhi syarat. Maka, Mistar pun kembali ke rumah. Tahun 1999, dia memutuskan mendaftarkan diri menjadi TKI ke Malaysia.
Motivasi kerjanya sejak awal memang tidak semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan itu sendiri, tetapi lebih guna mengumpulkan modal untuk membuka usaha di kampungnya sendiri. ”Banyak anggota keluarga kami yang tidak punya pekerjaan. Saya juga tidak pernah berpikir untuk menjadi pegawai negeri sipil atau tentara,” kata Mistar.
Negeri Sembilan
Mistar kemudian diterima bekerja di pabrik tekstil di Negeri Sembilan, Malaysia. Ketika itu dia mendapat gaji pokok sebesar 430 ringgit per bulan. Namun, pada praktiknya dalam sebulan ia bisa menerima sampai 1.000 ringgit karena banyak kerja lembur.
Dia bercerita, banyak temannya sesama TKI yang menggunakan uang hasil kerja di Malaysia itu untuk membeli tanah atau membangun rumah. Namun, setelah kembali ke Tanah Air mereka justru tidak mempunyai pekerjaan. Kondisi seperti itu menambah motivasi Mistar untuk membuka usaha sendiri. ”Rencana saya itu cuma dua tahun bekerja di Malaysia, tetapi uangnya belum terkumpul cukup. Jadinya selama tiga tahun saya menjadi TKI di sana,” katanya.
Mistar mengenang, sekitar delapan bulan sebelum kembali ke kampung halaman pada 2002, dia mengirimkan uang Rp 20 juta kepada sang bapak. Uang itu digunakan oleh ayah dan pakciknya untuk modal membuka usaha roti yang kemudian diberi merek Family.
Pilihan usaha roti diputuskan karena pakciknya memang ahli dalam pembuatan roti. Sejak tahun 1970-an, Pakcik Suryadi bekerja pada seorang pengusaha roti keturunan Tionghoa.
”Dulu, kami ini memang keluarga kuli (pabrik) roti. Kebetulan juga saat itu bahan baku pembuatan roti bisa diutang pada toko bahan pokok di Tanjungpura. Minggu ini kami ambil bahan untuk roti, satu minggu kemudian baru dibayar,” ceritanya.
Mistar memilih nama Family untuk produk rotinya karena para pekerja dalam usaha ini adalah anggota keluarga besarnya. ”Mulai dari pakcik, bapak, sampai tiga adik saya, semuanya terlibat dalam usaha roti ini,” kata Mistar yang produk rotinya menyasar konsumen kelas menengah-bawah dengan harga eceran rata-rata Rp 500 per buah.
Pinjam bank syariah
Uang hasil kerja Mistar sebagai TKI di Malaysia relatif habis digunakan untuk membeli peralatan pembuatan roti dan membuat bangunan berdinding anyaman bambu berlantai semen di belakang rumah orangtuanya.
Di sini ada tungku besar dari bata dengan bahan bakar kayu. Ada pula mesin penggilas adonan dari besi yang ditempa sendiri. Ongkos pembuatan mesin penggilas adonan dengan bantuan bengkel las itu sekitar Rp 2,5 juta. Alat serupa ini bila dibeli di toko bisa sampai Rp 6 juta.
Mistar juga membangun ruangan penguapan kue. Ruang seluas sekitar 2 x 2 meter itu beratap rendah dan ditutup gorden. Uapnya berasal dari dua kompor yang terus mendidihkan panci berisi air. Uap air dari panci itu yang membuat suhu udara di kamar penguapan itu selalu hangat.
Pelan-pelan usaha roti Family terus berkembang. Mistar pun memberanikan diri menambah modal dengan meminjam dari bank.
”Namun, baru setelah usaha berjalan kami pinjam uang ke bank. Kami pinjam Rp 50 juta dari Bank Sumut Syariah,” cerita Mistar. Selain itu, dia juga punya pinjaman Rp 10 juta pada Lembaga Peningkatan dan Pengembangan Kesejahteraan Masyarakat (LP2KM).
Karyawan bertambah
Waktu baru membuka usaha pada 2002, produksi roti Family membutuhkan lima hingga enam karung terigu setiap hari dengan jumlah karyawan di bagian produksi 10 orang. Kini, ia membutuhkan sedikitnya 15 karung terigu per hari dengan jumlah karyawan 70 orang.
Dari jumlah karyawan itu, 25 orang bekerja di bidang produksi dan 25 orang lainnya menjadi tenaga pemasaran yang membawa roti Family ke sejumlah warung di Langkat, Binjai, Serdang Bedagai, Deli Serdang, hingga Aceh Timur. Adapun 20 orang adalah pekerja lepas untuk pembungkusan roti.
Pekerja produksi digaji Rp 20.000-Rp 40.000 per hari, sedangkan tenaga pemasaran dibayar berdasar bagi hasil penjualan.
Mistar juga menampung pemasaran untuk tiga produsen roti kering di dusunnya. Salah satu di antara produsen roti kering milik Tina Melinda (32), sesama mantan TKI di Malaysia yang mempunyai 26 karyawan.
Untuk meningkatkan kualitas produk, setiap tiga bulan sekali petugas dari dinas kesehatan datang untuk mengecek kualitas pangan produksinya.
”Saya banyak dibantu BP3TKI (Badan Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI) mengikuti pelatihan. Para mantan TKI juga sering bikin pertemuan di sini,” kata Mistar tentang mereka yang datang ke Desa Tanjung Beringin untuk studi banding, termasuk dari Bandung, Jawa Barat.
Meski telah tujuh tahun menjadi juragan roti, Mistar belum pernah melihat pabrik roti modern, apalagi punya jaringan dalam industri pangan nasional. Namun, setidaknya sebagai mantan TKI, dia bisa membuka peluang kerja bagi banyak orang di kampungnya.
Mistar berharap, siapa pun yang kelak menjadi presiden di negeri ini, perekonomian Indonesia bisa stabil. Ini penting baginya agar usaha roti yang menghidupi puluhan keluarga di desanya itu bisa terus berkembang. 
Sumber : female.kompas.com

TKI Sragen Sukses Jadi Pengusaha Madu


Siapa sangka sosok di balik kesuksesan madu Arba’in adalah mantan tenaga kerja Indonesia (TKI). Sukarna, pria kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 40 tahun silam, ini pernah menghabiskan waktu 2,5 tahun di Arab Saudi sebelum sukses dengan bisnisnya saat ini.
Berkat kerja keras dan keuletannya, madu Arba’in telah menghiasi tokotoko dan apotek di hampir seluruh wilayah Indonesia. Lulus dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo 1994 lalu, cita-cita Sukarna sebenarnya ingin menjadi dosen.Untuk itu dia pun berniat meneruskan pendidikan S-2 dengan harapan dapat mengajar di almamaternya. Namun, di sisi lain, penyandang gelar sarjana pendidikan ini juga dituntut orang tuanya untuk segera bekerja.
Bekerja akhirnya dipilih Sukarna lantaran untuk meneruskan kuliah S-2 tidak memiliki biaya. "Selain kuliah, waktu itu saya juga ingin memperdalam ilmu agama agar seimbang dengan ilmu lain yang saya peroleh saat kuliah," kenang Sukarna. Dia kemudian memutuskan bekerja sebagai TKI di Arab Saudi.Pertimbangannya,selain bekerja,dia bisa memperdalam ilmu agama. Selama 2,5 tahun Sukarna bekerja di sebuah restoran cepat saji. Tidak hanya dapat mengumpulkan uang, dia juga mampu menjalankan ibadah umrah dan haji.
 
Kembali ke Tanah Air, pria yang tinggal di Jalan Pakis Gang Jago RT 3/14, Kampung Cemani, Desa Cemani, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, ini tidak langsung menekuni usaha berjualan madu. Dia menjadi guru STM di Sukoharjo.Dengan profesinya itu pula dia berani menikah. "Waktu itu, profesi guru sudah cukup mentereng untuk bekal menikah," ujar suami Ummuzaid ini tersenyum. Pada perjalanannya, menjadi guru di sekolah swasta ternyata tidak membuatnya betah. Sukarna menilai beban guru sangat besar, tetapi gaji yang diterima tidak sebanding. Masalah ini terus mengusik pikirannya.
Hingga suatu saat, setelah mempertimbangkan matang-matang, dia akhirnya memutuskan mundur meskipun ketika itu belum memiliki rencana akan bekerja apa setelah tak lagi menjadi pendidik. Namun dari situlah ide berwirausaha muncul.Usaha yang digeluti pertama kali adalah bidang konveksi. Dengan modal awal hanya Rp300 ribu, usaha tersebut awalnya berkembang pesat. Memasuki bulan keenam omsetnya mencapai Rp20 juta. Tapi usaha ini tidak bertahan lama. Bisnis konveksi gagal akibat mitra usaha terus menunggak pembayaran. Dianggap tak lagi prospektif,Sukarna memutuskan banting setir mencari usaha lain."Waktu itu dana yang tersisa tinggal Rp200 ribu. Uang itu saya belanjakan madu dengan harapan akan saya jual kembali," kenang Sukarna.
Mengapa memilih usaha madu? Setidaknya ada tiga alasan yang dikemukakannya. Pertama,madu direkomendasikan Alquran dan Hadis.Kedua, usaha bidang kesehatan tidak mengenal musim dan ketiga, harga madu dari waktu ke waktu selalu naik. Madu yang didapatkan dari sekitar Solo tersebut lantas dikemas dalam ukuran kecil.Madu inilah yang dia tawarkan ke toko-toko,apotek, dan sejumlah temannya.
Sayang, tawaran itu belum mendapat respons positif.Alasannya, madu yang dia jual tidak terkenal. Belajar dari pengalaman itu,Sukarna berpikir untuk membuat brand baru dengan harapan produk madunya bisa diterima semua kalangan. Sukarna pun meminta temannya membuatkan label untuk ditempel di produk madunya. "Teman saya itu kemudian meminta nama merek untuk label tersebut," ujar Sukarna.
Dia pun berpikir untuk mencarinama yang mudah diingat dan dapat diterima semua masyarakat. Ditemukanlah kata ”Arba’in”. Nama ini lantas menjadi merek produk madunya sejak 2002. Madu Arba’in dikemas dengan ukuran 250 mililiter (ml) hingga 600 ml. ”Dengan label dan merek baru, apotek dan toko mulai dapat menerima meski belum semua,”ujarnya. Dengan semangat tinggi dan kesabaran, madu Arba’in produksinya sedikit demi sedikit mulai dikenal masyarakat.
Sukarna juga tak lelah mempromosikan produknya, mulai dari ikut berpameran hingga memajangnya di pusat perbelanjaan. Sukarna menuturkan, memasuki tahun ketiga,semua apotek sudah familier dengan madu Arba’in. Bahkan memasuki tahun kelima, banyak apotek yang menelepon untuk dikirimi produk madunya. Untuk memenuhi permintaan, awalnya dia hanya memiliki dua karyawan. Saat ini, sudah puluhan karyawan yang membantu usahanya tersebut. Semakin tingginya permintaan itu juga membuat dirinya memutuskan untuk melebarkan sayap bisnis.
Sukarna melakukan ekspansi usaha ke Yogyakarta.Untuk mendukung strategi bisnis tersebut, pada 2009 Sukarna mengakses perbankan, dalam hal ini BNI Syariah. Dengan sistem murabahah atau jual beli kredit, Sukarna mendapat pinjaman senilai Rp380 juta dengan durasi pinjaman tiga tahun. Uang itu dia gunakan untuk membuka cabang di Yogyakarta dan Bandung. Sukarna mengakui,bantuan keuangan dari BNI Syariah tersebut dirasakan benar-benar bermanfaat. Pasalnya, usaha madu menggunakan sistem konsinyasi sehingga butuh dana besar.
Artinya, produk dia titipkan terlebih dahulu di apotek, toko, dan lainnya di mana pembayaran dilakukan setelah laku. Hingga saat ini produk madu Arba’in telah terdistribusi di hampir semua wilayah di Indonesia, mulai dari Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Barat hingga Papua. Madu Arba’in dijual dengan harga termurah Rp22.500 hingga termahal berupa madu impor dari Yaman Rp650 ribu. Menurut Sukarna, usaha ini terus berkembang. Seiring kesuksesan itu, Sukarna merambah bisnis lain. Didasarkan pada filosofi ”jangan menaruh telur dalam keranjang yang sama”, dia tidak terpatok pada usaha penjualan madu.
”Sejak 2009 saya sudah merancang bisnis franchise (waralaba) es madu yang sudah laku tujuh gerai,” paparnya. Tidak hanya itu, Sukarna juga mengembangkan waralaba untuk brand yang lain, yakni pop corn dan teh segar. Bahkan, pada tahun ini dirinya kembali meluncurkan waralaba baru, yakni kue leker-kue maryam-terang bulan manis. Dengan beragamnya usaha yang dijalankan, ke depan dia berharap jika satu usaha mengalami kemunduran, bidang usaha lain dapat berkembang.
Disinggung tentang kendala dalam menjalankan usaha madu Arba’in dan bisnis waralabanya, Sukarna menyebut harga bahan baku yang sering tidak terkendali. Sebab, terkadang petani madu sering mengalami gagal panen. Madu Arba’in merupakan produk madu randu. Bahan bakunya dia ambil dari luar daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, NTB, Sumatera, serta Kalimantan.

Bahkan,ada juga bahan baku yang diambil dari Thailand,Mesir,dan Yaman. ”Saat ini bahan baku masih mudah. Namun, ada kalanya susah didapat,”ujarnya. Sukarna menambahkan, kunci kesuksesan yang dia raih selama ini memang tidak mudah. Selain harus fokus,seorang pengusaha harus sabar terhadap semua kendala, kreatif, serta harus selalu inovatif. Ke depan, dia tetap optimistis usahanya dapat berkembang.
Sumber : euro.okezone.com

Sukisman dan Dewi Mantan TKI Sukses Jadi Pengusaha Telur Puyuh

Mantan TKI yang merupakan pasangan suami istri, Sukisman dan Dewi, mencoba menyiapkan hari tua seawal mungkin. Keduanya sama-sama berusia 35 tahun, dan pernah menjadi Tki di Korea. Pasangan suami istri yang mengaku saling bertemu di Jakarta itu kini sukses beternak telur puyuh. Keuntungan bersihnya mencapai Rp. 1 juta/pekan. Modal awal pun sudah kembali dalam waktu enam bulan. Sukses itu tidak datang tanpa ujian. Tetapi diawali dengan kebangkitan total usahanya dalam beternak sapi. Akibat kebangkrutan besar itu, Dewi harus rela ditinggal pergi suaminya ke Korea. Mencari modal lagi untuk usaha.
Padahal, waktu itu Dewi yang asli Garut, Jawa Barat baru saja melahirkan anak pertamanya, Gerrad Meilano (5). Sedangkan putra keduanya, Aditya Al Majid yang kini berusia 11 bulan lahir hampir bersamaan dimulainya bisnis telur puyuh.
Dewi mengawali rumah tangganya dengan ketidakpastian sumber penghasilan. Namun, mereka kini sudah mapan. Memiliki toko pakan ternak bertingkat dua dan beternak puyuh petelur sebanyak 4 ribu ekor. Penjualnya juga sudah ajeg. Ada pengepul dari Klaten yang setiap dua minggu sekali datang mengambil telur. Ini masih ditambah keuntungan besar bisnis burung kicau yang harganya mulai dua ratus ribu sampai jutaan rupiah.
Sukses Pasca Bangkrut
Dewi, asal Garut Jawa Barat. Berasal dari keluarga tidak mampu dan tinggal di desa. Seperti pada umumnya perempuan muda yang baru saja lulus SMA di tahun 1996, Dewi juga ingin segera bekerja. Pasalnya, sekolah di perguruan tinggi jelas tidak mungkin. Ketiadaan biaya menjadi kendala. Alhasil, sejak tamat dari SMA, Dewi bertekad mencari pekerjaan sebisanya. Padahal, di Garut jarang ada pabrik besar. Karena itu, Dewi yang ingin mengubah nasibnya membulatkan tekad untuk merantau.
Pertama kali, bekerja di sebuah pabrik di Purwokerto. Tetapi, hanya bertahan selama dua tahun. Sesudah itu, pulang ke desa dan menganggur. Tak ingin hanya berpangku tangan, Dewi kembali bekerja. Tekadnya semakin bulat dan besar, sehingga dirinya memutuskan untuk bekerja ke luar negeri. Setelah susah payah melamar melalui PJTKI, awal tahun 2003 bisa berangkat ke luar negeri dan bekerja di sebuah pabrik pembalut di Korea. Ketika hendak berangkat ke luar negeri itulah, dia bertemu dan berkenalan dengan Sukisman. Seorang TKI asal Selman yang juga hendak mengadu nasib di Korea.
Perkenalan itu berlanjut salama keduanya berada di negeri orang. Sehabis masa kontak kerja yang kedua, Dewi dan Sukisman pulang ke Indonesia. Waktu itu, tahun 2005. Setahun kemudian, 2006, mereka menikah, “waktu menikah itu, kami sama-sama masih menganggur,” ungkap Dewi. Saking pusingnya tak kunjung mendapat pekerjaan, Sukisman nekad berangkat ke Korea lagi. Sedangkan Dewi tinggal di Garut bersama anak pertamanya yang waktu itu baru berusia dua minggu.
Tiga tahun lamanya Sukisman bekerja di Korea. Tahun 2009, Sukisman pulang dan keduanya sepakat membuka usaha di kampung halaman Sukisman di Pendowoharjo, Sleman. Dewi setuju. “Tahun 2009 itu, kami sepakat beternak sapi. Tidak tanggung-tanggung, kami berdua membeli 10 ekor sapi. Tapi, semua itu gagal. Harga sapi terjun bebas dan kami rugi dua juta rupiah perekor. Itu belum termasuk kerugian tenaga dan pakan,” kenang Dwi.
Namun, kegagalan itu tak membuat mereka putus asa. Sebaliknya, terus memompa semangat suaminya untuk terus berushaa. Akhirnya melalui seorang teman, Dewi belajar beternak puyuh petelur. Akhir tahun 2009, Dewi dan Sukisman bahu membahu membangun peternakan puyuh. Uang sisa penjualan sapi yang ruti, diinvestasikan lagi untuk beternak telur puyuh dan membuat warung pakan ternak kecil-kecilan.
“Tidak disangka, dari ternak puyuh sebanyak 4 ribu ekor, semua modal sudah kembali dalam waktu enam bulan. Omzetnya sangat tinggi,” kata Dewi. Kini, Dewi semakin tekun memelihara telur puyuh. Sekalipun cukup sulit, hasilnya sepadan. Memelihara puyuh petelur itu sulit, karena tergolong ternak sensitif. Mudah tertular penyakit dan stres. “Kalau mendengar suara keras yang mendadak, puyuh bisa stres. Tapi dengan kandang yang tertutup dan dibersihkan setiap hari, semua kendala itu tidak bermasalah,” jelas Dewi, seraya mengimbuhkan karena itu pula dirinya melarang orang lain untuk bisa mauk ke kandang. Selain keuntungan dari telur puyuh. Dewi juga masih memperoleh keuntungan lain dari penjualan kotoran puyuhnya. Dari 4 ribu ekor puyuh, dalam sehari menghasilkan kotoran sebanyak 3 ember. “Satu ember kotoran puyuh yang masih basah laku terjual sebesar seribu rupiah,” katanya.
Sedangkan dari puyuhnya sendiri, kadang juga masih bisa diperoleh sedikit keuntungan lagi. Setahun, sekali, puyuh yang sudah tidak produktif dijual seharga Rp. 2.500/ekor dan diganti puyuh usia 3 minggu. “Puyuh akan mulai bertelur pada usia 60 hari dan mencapai puncak produktivitasnya pada usia 10 bulan,” pungkasnya.
Sumber : kertasbiasa.blogspot.com

TKI Kalsel Sukses Jadi Pengusaha Sawit

Berita Daerah-Kalimantan), Sore itu udara di areal persawahan di Pantai Hambawang, Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalsel cukup panas. Langit cerah tanpa awan, baju kaos lengan panjang yang membungkus tubuh lelaki berkulit sawo matang basah oleh keringat. Sambil duduk di pematang sawah, wajah Sunarto, terlihat serius memegang joran yang dibuat dari bambu.

Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tahun 90-an itu mulai tersenyum ketika merasakan tali senarnya kencang karena umpannya disambar ikan.
Uh...Uh... kena..! kata Narto seraya mengangkat joran.
Seekor ikan gabus sebesar lengan tangan menggelepar terkena pancing setelah mematuk umpan dari ulat bumbung.
"Alhamdulillah, lumayan sudah dapat dua ekor ikan gabus," kata lelaki asal Lamongan Jawa Timur itu.
Sunarto mengaku Memancing, adalah kegiatan untuk mengisi waktu selepas menanam padi.
Bagi bapak dua anak itu, memancing juga bisa menjadi sarana untuk mencari inspirasi dan menambah ilmu pengetahuan melalui membaca buku-buku tentang berkebun kelapa sawit.
Memancing merupakan kebiasaan yang dilakukan Sunarto setelah pulang dari "Negeri Jiran" Malaysia menjadi TKI yang diperkerjakan di bangunan gedung dan apartemen.
Tiga setengah tahun Sunarto berjibaku dengan alat berat di Malaysia membangun beberapa apartemen dan gedung bertingkat.
Selama merantau, gaji yang diterima dikirimkan kepada keluarganya, terutama kedua orangtuanya di Lamongan untuk keperluan hidup sehari-hari dan sebagian dibelikan sapi.
Sedikitnya enam ekor sapi yang berhasil dibeli selama Sunarto menjadi TKI di negeri Jiran Malaysia.
Diujung masa kontraknya berakhir, Sunarto pulang ke kampung halamannya di Lamongan.
Selain rindu kepada kedua orangtua, keluarga dan teman-temannya, kepulangannya ke Indonesia juga karena surat dari teman dekat yang masih setia menunggu di Pantai Hambawang, Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalsel.
Setelah melepas kerinduan dengan orangtua, dan keluarganya di Lamongan, Sunarto mendatangi Norafiah, teman dekatnya semasa bersama-sama menjadi karyawan pabrik plywood PT Basirih di Banjarmasin 1993.
Tujuanya tidak lain dan tidak bukan, hanyalah ingin meminang Norafiah kepada orangtuanya di Barabai.
Tidak membuang-buang waktu, lulusan SMA Sambeng, Lamongan itu melangsungkan pernikahannya dengan perempuan berambut ikal dan berkulit sawo matang.
Tahun pertama menjadi warga Barabai, Sunarto mengaku, canggung dan merasa serba salah apa yang akan dikerjakan, bertani atau berdagang.
Meski dilahirkan dari keluarga petani, Sunarto masih belum siap untuk menjadi petani seperti nenek moyangnya.
Saat berkunjung ke tempat keluarganya di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, Sunarto sempat ditawari kerabatnya untuk membeli sebidang lahan kosong seharga kurang dari Rp5 juta.
Meski dalam hatinya masih ragu, Sunarto tetap menyetujui tawaran tersebut.
"Itung-itung membantu keluarga," kata Sunarto mengenang.
Dalam perjalannya, Sunarto memutuskan hidup di Kota Kotabaru.
Ia bersama istrinya boyongan dari Barabai, ke Kotabaru untuk mengadu nasib bersama keluarga yang lainnya.
Untuk menghidupi keluarganya, Sunarto mengisi hari-harinya dengan mengayuh becak di Kota Kotabaru.
Sunarto berkeyakinan, hanya dengan ijazah SMA, tidak banyak yang bisa dilakukan, terlebih untuk menjadi pegawai negeri.
"Makanya saat itu saya langsung membeli becak agar tidak menyewa," kata Sunarto yang kini telah dikarunia dua orang putri.
Di sebuah petakan rumah berukuran 10 meter X 4 meter di sebuah gang buntu, Sunarto mengawali perjuangannya di Kota Kotabaru.
Dari sebagian uang hasil menarik becak suaminya, Norafiah kumpulkan untuk ditabung.
"Selama saya di Kotabaru sering didatangi warga yang akan menjual lahan, dan saat itu pula saya tidak bisa menolak dan langsung saya beli," ujarnya.
Ia selanjutnya memutuskan untuk menjual sapi yang sudah menjadi delapan ekor itu untuk membeli kebun kelapa sawit di Kelumpang Selatan Kotabaru.
Sedikitnya lima paket, atau sekitar 10 hektare kebun kelapa sawit yang sudah dibeli Sunarto dari hasil menjadi TKI di Malaysia.
"Kebun-kebun sawit itu kini telah menghasilkan," ujar Sunarto.
Dari hasil kebun kelapa sawit itu pula, Sunarto kini telah memiliki beberapa hektare sawah di Barabai, untuk ditanami padi dan palawija.
Jadi Miliaran Rupiah.
Selain ditabung, hasil kebun sawit juga digunakan untuk membantu keluarganya yang mengalami kesulitan.
Baginya, hidup adalah perjuangan, dan kesuksesan adalah apabila bisa membantu orang lain menjadi lebih baik.
Meski hasil kebun sawitnya berfluktuatif, Sunarto tetap optimistis bahwa berkebun kelapa sawit menjadi usaha yang paling aman dan bisa diandalkan dibandingkan dengan usah yang lainnya.
"Berkebun sawit tidak ada pesaingnya, bahkan semakin banyak teman menanam kelapa sawit akan semakin baik," tuturnya.
Karena hamanya berkurang.
Berbeda dengan berdagang atau yang lainnya, jika ada orang yang sama-sama berusaha jenis yang sama, maka akan menjadi pesaing yang mengancam.
Selama berkebun sawit, Sunarto bisa pergi kemana-mana, tanpa harus memperhatikan kebun atau khawatir kebun akan terbengkalai.
Karena kebun kelapa sawit Sunarto dikelola Koperasi Unit Desa (KUD) Gajah Mada yang bekerjasama dengan PT Sinar Kencana Inti Perkasa (SKIP) dengan pola plasma.
Dalam kondisi baik, setiap bulan, Sunarto mendapatkan hasil dari kebunnya kisaran Rp10.000.000.
Ia mengaku sangat hati-hati dalam mengelola hasil kebun kelapa sawit. "Kami bercita-cita anak-anak kami yang masih kecil ini bisa sekolah setinggi-tingginya agar tidak seperti bapaknya sampai menjadi TKI hanya untuk mempertahankan hidup," harapnya.
Untuk mengembangkan usahanya agar tidak sampai disitu saja, Sunarto berencana untuk membuka usaha yang lainnya.
"Ya seperti mobil, harus ada ban serep, sewaktu-waktu ban kempes, kita bisa menggantinya dengan ban serep," terangnya.
Sewaktu-waktu usaha sawit menurun, harus sudah ada usaha yang bisa menopang.
Yang terpenting mumpung masih kuat dan sehat, kita ciptakan pundi-pundi pendapatan sebanyak-banyaknya, agar ketika tenaga sudah berkurang semuanya bisa jalan.
Sunarto mengimbau kepada TKI untuk berhati-hati dalam mengelola uang. Ia berpesan jangan sampai uang gaji itu digunakan untuk membangun rumah terlebih berfoya-foya.
"Betapa ruginya menjadi TKI berpisah dengan keluarga, setelah mendapatkan hasil digunakan untuk berfoya-foya," pesan dia.
Oleh karenanya, gunakan uang gaji untuk berinvestasi untuk masa depan keluarga dan semuanya.
Mungkin uang gaji yang dikumpulkan selama menjadi TKI jumlahnya hanya puluhan juta.
Namun setelah dibelikan kebun kelapa sawit, asset Sunarto yang dulu awalnya kurang dari limapuluh juta Rupiah itu kini telah menjadi miliaran rupiah.
Sumber : beritadaerah.com
-----------------------------------------------------<(())>-----------------------------------------------------

Lowongan Kerja Kontruksi Malaysia BIAYA GRATIS

  • Gaji pokok                 : RM 40/hari (Sekitar 3.5 juta perbulan), belum termasuk lembur.
  • Kontrak kerja            : 2 tahun (bisa memperpanjang)
  • Permit / levi                : Di tanggung TKI sekitar RM 1250 setahun.
  • Biaya proses              : 1 Juta Rupiah. Bisa Gratis (potong Gaji) dengan ketentuan ada jaminan.
  • Potongan  biaya        : RM 450 x 4 Bulan (Sekitar Rp 1.5 juta selama 4 bulan).
  • Persyaratan                : Usia min 18 tahun, maksimal 40 tahun
  • Fasilitas                      : Asrama di sediakan. 
  • Makan                         : Makan biaya sendiri perbulan sekitar RM 200.
  • Pekerjaan & daerah   : Membangun pabrik di daerah Johor.
Proses di Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur
Informasi Lebih Lanjut Silahkan langsung Telepon Ke HP "Pak Agus Asrori "


Maaf Kami Tidak Melayani SMS
Karena Banyaknya Peminat Kami tidak Bisa membalas SMS.
HP : 081 235 491 898 (Simpati).
HP : 087 858 111 096 (XL).
HP : 0856 0802 8600 (IM3) 


Karena Banyaknya Penelpon, Jika Telepon Tidak Menyambung Silahkan Mengulang Telepon Lagi.

Lina Marlina : Kisah Manis TKI Sukses di Singapura

Sudah 10 tahun ini Lina Marlina (30), bekerja sebagai TKI Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) di Singapura. Tentunya banyak pengalaman dan pengatahuan yang ia dapatkan. Meski masih bekerja, Lina Marlina sudah bisa menui sukses.Kini ia sudah memiliki usaha yang dijalankan adiknya di Ciamis, Jawa Barat. Ia juga memiliki sebuah mobil untuk menjalankan usahanya.

Selama bekerja di Singapura, Lina sapaan akrabnya, tidak hanya bekerja sebagai TKI. Di waktu luangnya, ia mempunyai aktivitas bersama temen-temen TKI lainnya. Kadang ia mengisi waktu luangnya dengan belajar Entrepreneurship atau kursus kecantikan.

“Kami diajarkan untuk menjadi wirausaha. Jadi tak selamanya kami jadi TKI di negeri orang,” tukas Lina yang berasal dari Ciamis, Jawa Barat beberapa waktu lalu.

Banyak pelajaran yang didapatkan oleh Lina dari kelas Entrepreneurship yang diadakan seminggu sekali. “Kami diajari untuk memiliki target dan rencana bisnis. Juga diberi tahu pentingnya menabung untuk diri sendiri, untuk masa depan. Intinya untuk merubah jalan hidup,” ujar sulung dari tiga bersaudara ini.

Bersama 50-an TKI lainnya, setiap hari Minggu Lina dengan tekun menyimak pelajaran Entrepreneurship yang diadakan oleh yayasan non-profit Media Transformation Ministry Ltd. (MTM) bekerjasama dengan Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) dan Martha Tilaar itu.

Dengan bekal pengetahuan dan pelajaran itu hasilnya sekarang Lina sudah mempunyai usaha sendiri.

“Sekarang saya sudah punya usaha yang dijalankan oleh adik di Rawaapu, Cilacap, Jawa Tengah,” paparnya

Untuk mendukung usahanya itu, Lina juga sudah mengkredit sebuah mobil bak untuk memasok kayu bakar kepada perajin gula dan batu bata di daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah tersebut.

Ke depannya, Lina mengaku ingin mengembangkan usaha depot air minum dan restoran sendiri.

“Tapi itu rencana tiga tahun lagi. Sekarang saya masih mengumpulkan modal. Sekalian menyelesaikan kelas entrepreneurship dan mengambil program diploma,” ujarnya tegas. (Hapipi)

-------------------------------------------------------------------------------
Lowongan kerja sebagai PLRT (Penata Laksana Rumah Tangga) di negara Singapura dengan biaya GRATIS (potong gaji) dengan ketentuan sebagai berikut:


  • Non GAJI SGD 450 = kurang lebih Rp 4.000.000,-
  • Eks GAJI SGD 530 = kurang lebih Rp 4.500.000,-
  • Biaya Gratis Sistem Potong Gaji
  • Potongan 8 bulan x SGD 25
  • Selama potonga gaji masih mendapat gaji sekitar 1.5 juta rupiah.
  • BLK rata-rata 3 Bulan langsung berangkat, yang sudah Eks Singapura bisa tunggu dirumah.
  • Uang saku besar.
Proses di Jakarta - Jawa Tengah - Jawa Timur - Lampung.
Informasi Lebih Lanjut Silahkan langsung Telpon Ke HP "Pak Agus"


Maaf Kami Tidak Melayani SMS
Karena Banyaknya Peminat Kami tidak Bisa membalas SMS.


HP : 081 235 491 898 (Simpati).
HP : 087 858 111 096 (XL).
HP : 0856 0802 8600 (IM3).


Karena Banyaknya Penelpon, Jika Telepon Tidak Menyambung Silahkan Mengulang Telepon Lagi.

Perjalanan Sukses TKI Jadi Artis "Duo Sabun Colek"

Nama grup vokal dangdut, Duo Sabun Colek belakangan melejit di jagat hiburan Tanah Air. Duo Sabun Colek yang beranggotakan Dina dan Kiki semakin sering tampil di stasiun televisi.

Meski terhitung baru, Dua Sabun Colek juga berhasil meraih penghargaan dalam ajang Dahsyat Awards mengalahkan senior mereka, Inul Daratista dan Zaskia Gotik. Lewat single Gatal, Gatal, Gatal mereka mulai mencuri perhatian publik.

Paras menawan dan suara merdu bukan satu-satunya modal Dina serta Kiki meraih kepopuleran. Perjalanan hidup mereka yang terbilang unik justru jadi daya tarik.

Pada tahun 2009, Dina dan Kiki pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Selang dua tahun kemudian, keduanya berangkat ke Hong Kong untuk menjadi TKI.

“Dahulu kami satu majikan,” ujar Kiki.

Garis tangan keduanya berubah saat band Wali menggelar konser di Hong Kong pada tahun 2011. Kebetulan, Dina menjadi salah satu penontonnya. Pesona Dina membuat seorang produser bernama Sujana tertarik untuk merekrutnya sebagai aktris.

Namun,  Dina tak langsung tergoda. Ia sadar tak memiliki bakat dan kemampuan. Di sisi lain, Sujana dan sang istri, Feby terus meyakinkan Dina bahwa ia bisa sukses menjadi artis. Dina akhirnya menyerah. Pada Desember 2012, ia berkunjung ke kantor Sujana.

“Dari situlah Dina yakin karena ada foto-foto band Wali, Kangen Band dan baru itu aku diyakinkan jadi aktris,” ujarnya.

Dina kemudian menjalani tes nyanyi. Rupanya suara Dina membuat Sujana berubah pikiran. Ia menilai, Dina lebih cocok menjadi penyanyi dangdut ketimbang aktris.

Dengan kemampuan menyanyi terbatas, Dina mengaku tidak percaya diri. Ia akhirnya mengajak Kiki untuk menjadi partner duet. Sebelum muncul ke publik, Kiki dan Dina dibekali latihan olah vokal, koreografi, dan fesyen.

“Semua sudah dibungkus sama manajemen,” ucap Dina.

Album Duo Sabun Colek dirilis pada Maret tahun lalu. Penghasilan Dina dan Kiki berubah drastis. Jika saat masih menjadi pembantu mereka hanya meraup Rp1-2 juta per bulan kini Dina dan Kiki bisa mengantongi bayaran Rp30 juta untuk sekali tampil.

Rezeki yang mereka peroleh tak lantas dihambur-hamburkan. Kiki misalnya. Ia menggunakan penghasilannya untuk menebus surat rumah  keluarganya yang sempat disita.

“Kalau aku dari hasil kerja bernyanyi aku bisa bantu berobat orangtua dan menyekolahkan adik,” kata Dina.

------------------------------------------------------------------

Lowongan kerja sebagai PLRT (Penata Laksana Rumah Tangga) di negara Hong Kong dengan biaya GRATIS (potong gaji) dengan ketentuan sebagai berikut:

  • GAJI HK $ 4.110 = kurang lebih Rp 6.000.000,-
  • Biaya Gratis Sistem Potong Gaji
  • Potongan 6 bulan x HK $ 2.145 ( sekitar Rp 3.2 juta selama 6 bulan)
  • Selama potonga gaji masih mendapat gaji sekitar 2.8 juta rupiah.
  • BLK rata-rata 3 Bulan langsung berangkat.
  • Uang saku besar.
    Proses di Jakarta - Jawa Tengah - Jawa Timur - Lampung.
    Informasi Lebih Lanjut Silahkan langsung Telpon Ke HP "Pak Agus"


    Maaf Kami Tidak Melayani SMS
    Karena Banyaknya Peminat Kami tidak Bisa membalas SMS.


    HP : 081 235 491 898 (Simpati).
    HP : 087 858 111 096 (XL).
    HP : 0856 0802 8600 (IM3).


    Karena Banyaknya Penelpon, Jika Telepon Tidak Menyambung Silahkan Mengulang Telepon Lagi.


    http://www.pjtkiresmionline.com/2014/05/tkw-plrt-hongkong-prt-beby-sitter.html