Mantan TKI Taiwan Ini Jadi DPRD Kabupaten Magetan

MAGETAN - Kisah sukses juga dialami Karmini, anggota Komisi D DPRD Kabupaten Magetan.

Mantan TKI di Taiwan ini, kini sudah menjadi politisi PDIP.

Kisah sukses sejumlah purna TKI ini mengilhami Tina (34), warga Gunung Kawi, Kabupaten Malang.

Tina yang sudah enam tahun ini bekerja di Hongkong, tak ingin jerih payahnya mengais rejeki di negeri orang sia-sia.

Karena itu, hasil kerjanya sebagai penjaga anak (baby sitter) di Hongkong dijadikan modal usaha kopi luwak di sekitar Gunung Kawi.

“Kalau mau menuruti kemauan, di sana (Hongkong) pergaulannya bebas. Mau cari senang seperti apa keturutan,” katanya.

Dengan uang yang dikumpulkan selama tiga tahun, Tina membeli sebidang tanah di Gunung Kawi.

Di tanah tersebut sudah ada ratusan batang pohon kopi yang mulai berproduksi.

Kebun kopi tersebut dipercayakan kepada bapaknya, yang sebelumnya sebagai buruh tani.

Tina juga mengupah pekerja untuk mengelola kebun kopi yang dilengkapi kandang luwak.

“Setiap hari luwaknya diberi makan buah kopi yang sudah matang. Jadilah sisanya kopi luwak yang mahal,” ujarnya.

Karena masih tahap ujicoba, produksi kopi luwak masih hanya beberapa kilo per bulan.

Apalagi ada kendala luwak yang mati. Namun usaha baru ini sudah menjanjikan untuk jadi sandaran penghasilan sepulang dari Hongkong. (didik mashudi/doni prasetyo/ahmad rivai/david yohanes) 

 

Wahyudi Chandra, Potret TKI Sukses di Hong Kong

Untuk BMI yang bekerja di Hong Kong, pasti tak asing dengan nama Chandra. Yup, ada rumah makan Chandra dan ada juga Chandra Remmitance. Adapula toko Chandra yang menjadi tempat tujuan saya setiap habis menerima gaji. Disana, saya biasa kirim uang dan membeli beberapa produk dari Indonesia, terutama kerupuk. Tapi, siapakah sebenarnya pendiri Rumah Makan Chandra, Toko Chandra dan Remmitance Chandra?


Dia adalah salah seorang TKI yang sukses. Wahyudi Chandra namanya, beliau berhasil dan sukses mempunyai minimarket yang menjual berbagai macam produk buatan Indonesia di Hongkong.

Tak selamanya TKI bernasib kurang baik. Banyak pahlawan devisa itu memetik kesuksesan di negara lain dengan menjadi seorang pengusaha seperti dialami oleh Wahyudi Chandra Jakarta, BNP2TKI, Senin (17/9) .

Kesuksesannya bukan terjadi secara instan. Dulu, sekitar awal 1990-an, Chandra bekerja di Hong Kong hanya sebagai penjual makanan, koran, dan kaset dengan berkeliling di Victoria Park. Tapi itu dulu, sekarang Chandra telah sukses memiliki minimarket.

Lokasi minimarket Chandra di Causeway Bay yang strategis membuat banyak BMI yang mengunjunginya. Para pengunjung juga bukan hanya dari kalangan BMI saja, adapula dari warga Hong Kong yang sengaja membeli produk Indonesia di Chandra. Selain membeli berbagai keperluan, adapula yang mengirim uang ke kampung halaman melalui jasa pengiriman uang di Chandra, saya juga selalu mengirim uang lewat Chandra. Selain prosesnya cepat, nilai tukarnya juga lebih tinggi dibandingkan mengirim uang lewat Bank.

Jangan kaget pula tiap akhir pekan, pemilik toko pasangan Wahyudi Chandra dan Bekti Dwi Wahyuni itu kadang terlihat didepan toko Chandra, hanya sekedar untuk menyapa para BMI yang mampir di tokonya. Ia juga berniat memberi motivasi pada BMI agar para BMI mau serta mampu mengubah nasib dengan meningkatkan dan menambah keahlian seperti dirinya.

Pada tahun 1997, seperti dikutip dari Liputan6.com, Chandra mulai membuka minimarket pertamanya. Setelah 15 tahun, Chandra telah mempunyai 16 minimarket yang tersebar di wilayah Kowloon, Hong Kong Island, dan New Teritorry.

Bisnis Chandra kian hari kian berkembang dan merambah ke bidang lain, seperti biro perjalanan, money changer, Balai Latihan Kerja, hingga pengiriman uang dan paket barang. Dan tidak kurang dari 30 ribu transaksi per bulan dengan omzet triliunan rupiah per tahun. Wow !!!

Menurut Chandra, keberhasilan yang diraihnya bukanlah hal mudah. Menurut bapak dari tiga anak ini, perjuangan meraih kesuksesan sangat sulit, terutama pada saat perjuangan mendapatkan visa investor. Namun, Chandra bukan tipe orang yang mudah menyerah. Ia mengirimkan surat permohonan ke Gubernur Hong Kong lewat pengacara dan akhirnya berhasil mendapatkan izin usaha di Hong Kong.

Kini, Chandra telah membuka dua buah restoran masakan Indonesia dengan harga yang cukup terjangkau. Dari usaha bisnisnya ini, tak kurang dari 50 karyawan asal Indonesia dan Hong Kong menjadi karyawannya.



Bambang Isyanto; Sosok TKI Sukses di Brunei Darussalam

Bambang Isyanto tergolong tenaga kerja asal Indonesia sukses di Brunei Darussalam. Dia mengelola puluhan hektar kebun sayur yang hasilnya dipasok ke berbagai pasar tradisional dan swalayan di Bandar Seri Begawan. Perlu perjuangan berat untuk bisa seperti sekarang. Bagaimana ceritanya?
HERIYANTO, Bandar Seri Begawan

PEKERJA keras dan pantang menyerah. Itulah sosok Bambang Isyanto, 40 tahun, warga Indonesia yang kini menetap di Brunei Darussalam. Dengan berbekal dua hal itu, Bambang mampu menaklukkan Brunei Darussalam. Saya bertandang rumah Bambang di Kampung Pangkalan Batu, Brunei Darussalam pekan lalu. Di rumah bertingkat dua itu Bambang tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Ini rumah yang cukup besar. Dari depan, rumah ini terlihat mentereng. Di halaman rumah terparkir sejumlah mobil milik Bambang. “Butuh perjuangan sangat berat untuk bisa sampai seperti ini,” kata Bambang saat berbincang di rumahnya itu.

Bambang berangkat ke Brunei pada tahun 2000. Saat itu, usai menamatkan kuliah di Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura, Pontianak seseorang menawarinya untuk bekerja di Brunei Darussalam. Tugasnya membina para petani di negara itu.

Sebagai lulusan sarjana pertanian, tak ada alasan bagi Bambang untuk menolak tawaran itu. Apalagi, dia ditawari gaji yang sangat tinggi. Sudah terbayang di benak Bambang akan suasana yang nyaman di negeri orang. Apalagi dia bisa mempraktekkan ilmu yang telah ditimbanya selama beberapa tahun di kampus. 

Tetapi sesampai di Brunei, bukannya mendapat gaji yang tinggi, Bambang justru terlantar. Semua yang dibayangkannya buyar. “Saya kena tipu. Diiming-imingi gaji besar, rupanya sampai di sini ditaruh di hutan, tidak diberi makan. Saya disuruh garap ladang, tapi masih hutan,” kata Bambang mengingat saat awal merantau ke Brunei.

Saat itu ada dua orang yang berangkat bersamanya dari Pontianak. Sama seperti Bambang dua temannya itu juga ditawari untuk membimbing para petani di Brunei. Tapi karena tak tahan, dua rekannya itu memutuskan pulang ke Pontianak. Sementara Bambang nekad bertahan di Brunei. “Sudah kepalang tanggung. Malu kalau pulang ke Pontianak,” kata Bambang.

Selama dua tahun, Bambang tinggal di sebuah gubuk di ladang garapannya. Sehari hanya makan sekali. Itupun makan nasi yang keras dan mi instan yang sudah kedaluwarsa. Meski begitu Bambang tetap bertahan. Beruntung Bambang ditolong seorang warga Sabah, Malaysiayang meminjaminya uang untuk bertahan hidup.

Setelah  dua tahun lahan garapannya mulai menunjukkan hasil. Bambang sudah mulai memanen hasil tanamannya. Hasil panennya itu dijual ke sejumlah pasar di Bandar Seri Begawan. Tapi perjuangannya tidak sampai di situ. Bukannya memberi gaji, bos pemilik lahan itu justru meminta jatah dari penjualan sayur mayur.

Sempat putus asa, Bambang memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Tapi sebelum pulang, seorang warga Brunei yang mengenal Bambang, menawari Bambang untuk menikahi anaknya. Orangtua itu mengenal Bambang sebagai sosok pria yang ulet dan rajin. Karena itu dia tertarik menjodohkan Bambang dengan anaknya. Saat itu Bambang sempat menolak dengan alasan dia hendak pulang ke Indonesia.

“Saya dipertemukan dengan gadis itu. Dia orang sini (Brunei). Saya bilang ndak mau, saya mau balik ke Indonesia. Cari saja orang Brunei, kata saya. Dia bilang sudah cari orang Brunei tapi tidak sesuai dengan hati,” cerita Bambang.

Akhirnya setelah mempertimbangkan masak-masak, Bambang bersedia menikahi gadis itu. Namanya Fatimah Binti Haji Besar, seorang gadis solehah yang berpendidikan tinggi. Sejak itulah Bambang menetap di Brunei Darussalam. Dari hasil pernikahan itu, Bambang dikaruniai lima anak, yakni Hessa, Azziyati, Wafig, Nusaibah, dan Afifah.

Bambang diserahi tugas untuk mengelola kebun sayur milik mertuanya. Dengan sungguh-sungguh Bambang menggarap lahan itu sehingga kemudian menghasilkan panen yang melimpah. Saat ini ada puluhan hektar lahan yang digarapnya. Ada berbagai jenis sayuran di sana, mulai dari kangkung, cabai, kacang panjang, pisang, lengkuas, hingga mentimun. Dari kebun itu ratusan kilogram sayuran dihasilkan setiap harinya. Sayuran itu didistribusikan ke sejumlah pasar dan swalayan di Bandar Seri Begawan.

Dari hasil panen sayur itu Bambang mampu membeli beberapa mobil dan membangun rumah. Saat saya mengunjungi rumahnya pekan lalu, sejumlah mobil tampak parkir di depan rumahnya. Dua diantaranya Pajero dan Lexus. Saat berangkat ngantor ke kebun sayurnya, Bambang kerap menggunakan mobil mewah itu. Mobil itu juga kerap digunakan untuk mengangkut hasil panen sayurnya. Mobil itu memang tangguh untuk mengangkut beban berat. Sementara itu, mobil Lexus miliknya biasa dipakai untuk mengantar atau menjemput anak-anaknya.

Bambang merasa bersyukur diberi rezeki yang cukup. “Sejak kecil saya sudah berjuang sendiri. Berat hidup saya. Saya merasa belum ada orang yang pernah hidup sesusah saya. Sekarang Alhamdulillah. Allah berikan kemudahan,” kata anak kedua dari tujuh bersaudara itu.

Kini, Bambang punya lima anak buah yang membantunya menggarap kebun sayur. Selama ini sudah puluhan orang dari Indonesia yang bekerja padanya. Banyak yang sudah berhasil dan pulang ke kampung halaman. Sudah banyak yang mampu membuat rumah dan menyekolahkan anak. “Saya bersyukur bisa membantu orang lain,” kata pria kelahiran Malang, Jawa Timur itu. 

Meski memiliki istri warga Brunei, Bambang masih berstatus warga negara Indonesia. Saat ini dia memang belum bisa mengajukan status sebagai warga negara Brunei. “Di sini harus tinggal belasan tahun baru bisa jadi warga negara Brunei,” tambahnya. Bambang masih belum memutuskan apakah akan selamanya tinggal di Brunei atau suatu saat memboyong keluarganya ke Indonesia. “Yang penting saat ini saya jalani saja hidup. Semoga semuanya baik-baik saja,” katanya. (*)


Muhaimin Kunjungi Rumah TKI Sukses di Cilacap

REPUBLIKA.CO.ID,  CILACAP -- Dalam kunjungan kerja ke Cilacap Provinsi Jawa Tengah, Menakertrans Muhaimin Iskandar menyempatkan diri untuk menyatroni salon kecantikan milik Mantan TKI Arab Saudi yang telah mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Muhaimin berharap banyak TKI yang kembali ke tanah air dan memilih untuk berwirausaha  sehingga bisa membuka lapangan pekerjaan baru di kampungnya masing-masing.
"Kita memberikan penghargaan khusus bagi TKI/TKW yang bekerja di Arab Saudi selama 20 tahun di Salon. Ibu Prapti Zaenab (49 Tahun) yang telah berhasil akhirnya menjadi tenaga profesional yang juga akhirnya mendirikan salon ini yang patut menjadi contoh semua agar mampu meningkatkan keterampilan. Yang penting kata kuncinya keterampilan. Keterampilan menjadi syarat untuk mandiri," kata Muhaimin di Cilacap Provinsi Jawa Tengah (12/12).

Muhaimin berharap dengan semakin banyaknya tenaga kerja terampil, maka SDM Indonesia akan semakin maju dalam berbagai bidang.

"Kepada seluruh warga masyarakat jangan berhenti belajar. Datanglah ke dinas/kemenakertrans, kita beri pelatihan untuk semakin terampil," kata Muhaimin. dikutip dari keterangan resmi Humas Kemnakertrans kepada ROL, Kamis (12/12).

Dalan kesempatan itu, Muhaimin juga disuguhi air Zamzam yang dibawa oleh Suprapti sendiri dari Arab Saudi. Suprapti yang telah bekerja di Arab Saudi selama 20 tahun kini telah membuka salon dan memilih menetap di Cilacap.

Suprapti mengaku selama menjadi TKI, ia tidak pernah mengalami masalah.

"Yang penting kita kerja di luar negeri dengan mengikuti prosedur yang benar," kata Suprapti.

Frans Hurek TKI yang Sukses di Malaysia

Kita sudah bosan mendengar cerita tentang TKI, tenaga kerja Indonesia, yang dianiaya majikan di Malaysia. Disetrika. Dideportasi. Terlibat kasus kejahatan. TKI yang dilecehkan sebagai Indon yang bodoh di Malaysia.

Syukurlah, saat berlibur ke Nusa Tenggara Timur, tepatnya Kabupaten Lembata, saya mendengar versi yang lain tentang TKI. Bukan sekadar cerita, tapi bukti nyata. Bahwa TKI kita pun ada yang sukses di Malaysia. Dan yang bercerita itu Frans Asan Hurek.

Begitu antusiasnya Frans bercerita dilengkapi foto-foto dari perangkat gadget-nya, Samsung versi baru. "Di Malaysia sedang tren," kata teman yang jago bicara itu.

Bertahun-tahun si Frans ini sempat hilang dari peredaran bagaikan ditelan bumi. Dan, seperti biasa, banyak tuturan yang tidak jelas yang dikembangkan orang di Ileape, Lembata. Ceritanya seram-seram meski sumbernya tidak jelas.

Hingga suatu ketika Frans 'yang hilang' di Sabah, Malaysia, itu pulang berlibur di kampung. Bawa istri yang cantik, yang gayanya khas wanita kota di Lahad Datu, Malaysia Timur, plus anak yang gizinya bagus. Berbeda dengan TKI-TKI lain yang naik kapal laut, Frans selalu pakai pesawat.

Tinggal sebulan di kampung halaman, Desa Napasabok, Kecamatan Ileape, Lembata, NTT, bertemu ibunda yang sudah tua, Frans juga melakukan survei. Bikin desain rumah yang megah layaknya orang kaya di kota. Kembali ke Kota Lahad Datu, Frans secara teratur mengirim material dan uang yang diperlukan untuk bikin rumah mewahnya.

Sekarang rumah itu sudah jadi. Bentuknya rada nyeleneh, eksperimental, layaknya seniman yang kelebihan uang. Yah, Frans Hurek ini memang lagi mandi ringgit berkat usaha konstruksi kelapa sawit.

Dia dapat banyak job membuat pabrik-pabrik pengolahan kelapa sawit di Lahad Datu dan beberapa kawasan di negara bagian Sabah. Juga bikin instalasi air bersih untuk pekerja di kebun-kebun sawit. Dengan bangga Frans menunjukkan kepada saya mesin-mesin pengolah sawit yang rumit.

"Saya ini orang konstruksyen. Setiap hari saya keliling untuk melihat saya punya proyek di mana-mana tempat lah," ujar Frans dalam logat campuran Lembata + Malaysia Timur.

Malaysia Timur sejak dulu dikenal sebagai wilayah yang berjaya berkat kelapa sawit, karet, dan komoditas perkebunan. Maka, saya bisa membayangkan betapa banyaknya konstruksyen (konstruksi) yang harus digarap pengusaha TKI macam si Frans ini. Sungai Ringgit tentu mengalir deras ke kantongnya.

Karena itu, saya akhirnya percaya dengan begitu banyak cerita petulangannya ke tempat wisata yang mahal. Sekali makan bersama istri dan anak bisa habis Rp 2 juta. Ongkos perahu motor ke Pulau Komodo yang jutaan rupiah pun dianggap uang recehan saja.

Wow, Frans Asan Hurek, TKI yang unik! Malam itu mata saya sudah berat. Tapi presentasi Frans dan cerita suksesnya membuat saya terbelalak Saya biarkan dia cerita sepuas hati. Apalagi sudah beberapa tahun teman, sesama marga Hurek, ini tak pernah. berjumpa.

Frans punya kebanggaan sendiri karena sekarang dia sudah punya semacam monumen di kampung halaman. Yakni sebuah rumah bergaya kelas atas, mewah untuk ukuran Flores, yang bisa dilihat setiap waktu. Itu menjadi bukti bahwa TKI di Malaysia pun ternyata bisa berhasil.

Bukan TKI ala Flores Timur dan Lembata yang pulang sekejap, ringgit habis sebulan, kemudian balik lagi ke Malaysia Timur. Dan tak pernah kembali lagi ke kampung. Hingga akhirnya kita dapat kabar bahwa si X sudah meninggal dunia.

Frans malah secara tegas mengecam TKI-TKI yang lupa kampung halamannya. Jumlahnya cukup banyak. Mereka malah kerap lupa bahasa daerah. Bergaya layaknya orang Malaysia. "Saya paling jengkel dengan orang seperti itu," ujar Frans seraya menyebut beberapa nama teman SD di kampung dulu.

Lantas, bagaimana Frans bisa mandi ringgit, sementara TKI-TKI lain biasa-biasa saja, bahkan terpuruk?

Jawabnya: kerja keras, kerja cerdas, dan nasib baik.

Frans beruntung dapat jodoh seorang wanita cantik, pengusaha, warga negara Malaysia. Bisnis sudah menjadi darah daging istrinya. Beristrikan wanita tempatan berarti sama dengan dapat lisensi untuk buka usaha apa saja. Samalah dengan warga negara Malaysia.

Selama belasan tahun Frans menjadi pekerja pabrik kelapa sawit. Bekal ilmu dari SMK terkenal di Flores Timur membuat dia sangat menguasai cara kerja mesin-mesin pengolahan minyak kelapa sawit. Teknik pasang instalasi, filter, dan sebagainya dia kuasai secara sempurna.

"Tapi saya ditipu si tauke. Gaji saya tidak dibayar," tuturnya.

Kecewa berat, Frans kemudian belajar membuka usaha konstruksi pabrik sawit dari nol. Fotonya diperlihatkan kepada saya. Awalnya sih susah mencari order. Tapi perlahan-lahan orang Malaysia Timur mulai menggunakan jasanya. Bahkan dia sempat diajak mengerjakan pabrik di Kalimantan Utara, Indonesia.

"Ini fotonya. Kalau tidak ada foto, engkau tidak akan percaya," kata Frans seraya tersenyum.

Begitulah. Singkat cerita, Frans pun berubah menjadi tauke baru, pengusaha konstruksi di Kota Lahad Datu, Malaysia Timur. Selain tambah makmur, mandi ringgit, tubuhnya makin gemuk dengan perut yang buncit.

Sebagai bos yang berlibur Natal dan tahun baru di kampung, Frans tak lupa membawa seperangkat kembang api yang megah ala show-show besar di kota. Pada malam tahun baru kembang api itu dinyalakan dan menjadi tontonan orang kampung.

"Saya kembali ke Malaysia, tapi saya sudah komitmen untuk pulang kampung dua tahun sekali," ujar Frans ketika berpamitan dengan saya.

Mengapa tidak tiap tahun saja pulang? Ringgit kan banyak?
"Wah, saya harus gantian dengan yang lain. Sebab, proyek konstruksyen di Lahad Datu harus jalan terus," katanya.