TKI Sragen Sukses Jadi Pengusaha Madu


Siapa sangka sosok di balik kesuksesan madu Arba’in adalah mantan tenaga kerja Indonesia (TKI). Sukarna, pria kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 40 tahun silam, ini pernah menghabiskan waktu 2,5 tahun di Arab Saudi sebelum sukses dengan bisnisnya saat ini.
Berkat kerja keras dan keuletannya, madu Arba’in telah menghiasi tokotoko dan apotek di hampir seluruh wilayah Indonesia. Lulus dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo 1994 lalu, cita-cita Sukarna sebenarnya ingin menjadi dosen.Untuk itu dia pun berniat meneruskan pendidikan S-2 dengan harapan dapat mengajar di almamaternya. Namun, di sisi lain, penyandang gelar sarjana pendidikan ini juga dituntut orang tuanya untuk segera bekerja.
Bekerja akhirnya dipilih Sukarna lantaran untuk meneruskan kuliah S-2 tidak memiliki biaya. "Selain kuliah, waktu itu saya juga ingin memperdalam ilmu agama agar seimbang dengan ilmu lain yang saya peroleh saat kuliah," kenang Sukarna. Dia kemudian memutuskan bekerja sebagai TKI di Arab Saudi.Pertimbangannya,selain bekerja,dia bisa memperdalam ilmu agama. Selama 2,5 tahun Sukarna bekerja di sebuah restoran cepat saji. Tidak hanya dapat mengumpulkan uang, dia juga mampu menjalankan ibadah umrah dan haji.
 
Kembali ke Tanah Air, pria yang tinggal di Jalan Pakis Gang Jago RT 3/14, Kampung Cemani, Desa Cemani, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, ini tidak langsung menekuni usaha berjualan madu. Dia menjadi guru STM di Sukoharjo.Dengan profesinya itu pula dia berani menikah. "Waktu itu, profesi guru sudah cukup mentereng untuk bekal menikah," ujar suami Ummuzaid ini tersenyum. Pada perjalanannya, menjadi guru di sekolah swasta ternyata tidak membuatnya betah. Sukarna menilai beban guru sangat besar, tetapi gaji yang diterima tidak sebanding. Masalah ini terus mengusik pikirannya.
Hingga suatu saat, setelah mempertimbangkan matang-matang, dia akhirnya memutuskan mundur meskipun ketika itu belum memiliki rencana akan bekerja apa setelah tak lagi menjadi pendidik. Namun dari situlah ide berwirausaha muncul.Usaha yang digeluti pertama kali adalah bidang konveksi. Dengan modal awal hanya Rp300 ribu, usaha tersebut awalnya berkembang pesat. Memasuki bulan keenam omsetnya mencapai Rp20 juta. Tapi usaha ini tidak bertahan lama. Bisnis konveksi gagal akibat mitra usaha terus menunggak pembayaran. Dianggap tak lagi prospektif,Sukarna memutuskan banting setir mencari usaha lain."Waktu itu dana yang tersisa tinggal Rp200 ribu. Uang itu saya belanjakan madu dengan harapan akan saya jual kembali," kenang Sukarna.
Mengapa memilih usaha madu? Setidaknya ada tiga alasan yang dikemukakannya. Pertama,madu direkomendasikan Alquran dan Hadis.Kedua, usaha bidang kesehatan tidak mengenal musim dan ketiga, harga madu dari waktu ke waktu selalu naik. Madu yang didapatkan dari sekitar Solo tersebut lantas dikemas dalam ukuran kecil.Madu inilah yang dia tawarkan ke toko-toko,apotek, dan sejumlah temannya.
Sayang, tawaran itu belum mendapat respons positif.Alasannya, madu yang dia jual tidak terkenal. Belajar dari pengalaman itu,Sukarna berpikir untuk membuat brand baru dengan harapan produk madunya bisa diterima semua kalangan. Sukarna pun meminta temannya membuatkan label untuk ditempel di produk madunya. "Teman saya itu kemudian meminta nama merek untuk label tersebut," ujar Sukarna.
Dia pun berpikir untuk mencarinama yang mudah diingat dan dapat diterima semua masyarakat. Ditemukanlah kata ”Arba’in”. Nama ini lantas menjadi merek produk madunya sejak 2002. Madu Arba’in dikemas dengan ukuran 250 mililiter (ml) hingga 600 ml. ”Dengan label dan merek baru, apotek dan toko mulai dapat menerima meski belum semua,”ujarnya. Dengan semangat tinggi dan kesabaran, madu Arba’in produksinya sedikit demi sedikit mulai dikenal masyarakat.
Sukarna juga tak lelah mempromosikan produknya, mulai dari ikut berpameran hingga memajangnya di pusat perbelanjaan. Sukarna menuturkan, memasuki tahun ketiga,semua apotek sudah familier dengan madu Arba’in. Bahkan memasuki tahun kelima, banyak apotek yang menelepon untuk dikirimi produk madunya. Untuk memenuhi permintaan, awalnya dia hanya memiliki dua karyawan. Saat ini, sudah puluhan karyawan yang membantu usahanya tersebut. Semakin tingginya permintaan itu juga membuat dirinya memutuskan untuk melebarkan sayap bisnis.
Sukarna melakukan ekspansi usaha ke Yogyakarta.Untuk mendukung strategi bisnis tersebut, pada 2009 Sukarna mengakses perbankan, dalam hal ini BNI Syariah. Dengan sistem murabahah atau jual beli kredit, Sukarna mendapat pinjaman senilai Rp380 juta dengan durasi pinjaman tiga tahun. Uang itu dia gunakan untuk membuka cabang di Yogyakarta dan Bandung. Sukarna mengakui,bantuan keuangan dari BNI Syariah tersebut dirasakan benar-benar bermanfaat. Pasalnya, usaha madu menggunakan sistem konsinyasi sehingga butuh dana besar.
Artinya, produk dia titipkan terlebih dahulu di apotek, toko, dan lainnya di mana pembayaran dilakukan setelah laku. Hingga saat ini produk madu Arba’in telah terdistribusi di hampir semua wilayah di Indonesia, mulai dari Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Barat hingga Papua. Madu Arba’in dijual dengan harga termurah Rp22.500 hingga termahal berupa madu impor dari Yaman Rp650 ribu. Menurut Sukarna, usaha ini terus berkembang. Seiring kesuksesan itu, Sukarna merambah bisnis lain. Didasarkan pada filosofi ”jangan menaruh telur dalam keranjang yang sama”, dia tidak terpatok pada usaha penjualan madu.
”Sejak 2009 saya sudah merancang bisnis franchise (waralaba) es madu yang sudah laku tujuh gerai,” paparnya. Tidak hanya itu, Sukarna juga mengembangkan waralaba untuk brand yang lain, yakni pop corn dan teh segar. Bahkan, pada tahun ini dirinya kembali meluncurkan waralaba baru, yakni kue leker-kue maryam-terang bulan manis. Dengan beragamnya usaha yang dijalankan, ke depan dia berharap jika satu usaha mengalami kemunduran, bidang usaha lain dapat berkembang.
Disinggung tentang kendala dalam menjalankan usaha madu Arba’in dan bisnis waralabanya, Sukarna menyebut harga bahan baku yang sering tidak terkendali. Sebab, terkadang petani madu sering mengalami gagal panen. Madu Arba’in merupakan produk madu randu. Bahan bakunya dia ambil dari luar daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, NTB, Sumatera, serta Kalimantan.

Bahkan,ada juga bahan baku yang diambil dari Thailand,Mesir,dan Yaman. ”Saat ini bahan baku masih mudah. Namun, ada kalanya susah didapat,”ujarnya. Sukarna menambahkan, kunci kesuksesan yang dia raih selama ini memang tidak mudah. Selain harus fokus,seorang pengusaha harus sabar terhadap semua kendala, kreatif, serta harus selalu inovatif. Ke depan, dia tetap optimistis usahanya dapat berkembang.
Sumber : euro.okezone.com

Sukisman dan Dewi Mantan TKI Sukses Jadi Pengusaha Telur Puyuh

Mantan TKI yang merupakan pasangan suami istri, Sukisman dan Dewi, mencoba menyiapkan hari tua seawal mungkin. Keduanya sama-sama berusia 35 tahun, dan pernah menjadi Tki di Korea. Pasangan suami istri yang mengaku saling bertemu di Jakarta itu kini sukses beternak telur puyuh. Keuntungan bersihnya mencapai Rp. 1 juta/pekan. Modal awal pun sudah kembali dalam waktu enam bulan. Sukses itu tidak datang tanpa ujian. Tetapi diawali dengan kebangkitan total usahanya dalam beternak sapi. Akibat kebangkrutan besar itu, Dewi harus rela ditinggal pergi suaminya ke Korea. Mencari modal lagi untuk usaha.
Padahal, waktu itu Dewi yang asli Garut, Jawa Barat baru saja melahirkan anak pertamanya, Gerrad Meilano (5). Sedangkan putra keduanya, Aditya Al Majid yang kini berusia 11 bulan lahir hampir bersamaan dimulainya bisnis telur puyuh.
Dewi mengawali rumah tangganya dengan ketidakpastian sumber penghasilan. Namun, mereka kini sudah mapan. Memiliki toko pakan ternak bertingkat dua dan beternak puyuh petelur sebanyak 4 ribu ekor. Penjualnya juga sudah ajeg. Ada pengepul dari Klaten yang setiap dua minggu sekali datang mengambil telur. Ini masih ditambah keuntungan besar bisnis burung kicau yang harganya mulai dua ratus ribu sampai jutaan rupiah.
Sukses Pasca Bangkrut
Dewi, asal Garut Jawa Barat. Berasal dari keluarga tidak mampu dan tinggal di desa. Seperti pada umumnya perempuan muda yang baru saja lulus SMA di tahun 1996, Dewi juga ingin segera bekerja. Pasalnya, sekolah di perguruan tinggi jelas tidak mungkin. Ketiadaan biaya menjadi kendala. Alhasil, sejak tamat dari SMA, Dewi bertekad mencari pekerjaan sebisanya. Padahal, di Garut jarang ada pabrik besar. Karena itu, Dewi yang ingin mengubah nasibnya membulatkan tekad untuk merantau.
Pertama kali, bekerja di sebuah pabrik di Purwokerto. Tetapi, hanya bertahan selama dua tahun. Sesudah itu, pulang ke desa dan menganggur. Tak ingin hanya berpangku tangan, Dewi kembali bekerja. Tekadnya semakin bulat dan besar, sehingga dirinya memutuskan untuk bekerja ke luar negeri. Setelah susah payah melamar melalui PJTKI, awal tahun 2003 bisa berangkat ke luar negeri dan bekerja di sebuah pabrik pembalut di Korea. Ketika hendak berangkat ke luar negeri itulah, dia bertemu dan berkenalan dengan Sukisman. Seorang TKI asal Selman yang juga hendak mengadu nasib di Korea.
Perkenalan itu berlanjut salama keduanya berada di negeri orang. Sehabis masa kontak kerja yang kedua, Dewi dan Sukisman pulang ke Indonesia. Waktu itu, tahun 2005. Setahun kemudian, 2006, mereka menikah, “waktu menikah itu, kami sama-sama masih menganggur,” ungkap Dewi. Saking pusingnya tak kunjung mendapat pekerjaan, Sukisman nekad berangkat ke Korea lagi. Sedangkan Dewi tinggal di Garut bersama anak pertamanya yang waktu itu baru berusia dua minggu.
Tiga tahun lamanya Sukisman bekerja di Korea. Tahun 2009, Sukisman pulang dan keduanya sepakat membuka usaha di kampung halaman Sukisman di Pendowoharjo, Sleman. Dewi setuju. “Tahun 2009 itu, kami sepakat beternak sapi. Tidak tanggung-tanggung, kami berdua membeli 10 ekor sapi. Tapi, semua itu gagal. Harga sapi terjun bebas dan kami rugi dua juta rupiah perekor. Itu belum termasuk kerugian tenaga dan pakan,” kenang Dwi.
Namun, kegagalan itu tak membuat mereka putus asa. Sebaliknya, terus memompa semangat suaminya untuk terus berushaa. Akhirnya melalui seorang teman, Dewi belajar beternak puyuh petelur. Akhir tahun 2009, Dewi dan Sukisman bahu membahu membangun peternakan puyuh. Uang sisa penjualan sapi yang ruti, diinvestasikan lagi untuk beternak telur puyuh dan membuat warung pakan ternak kecil-kecilan.
“Tidak disangka, dari ternak puyuh sebanyak 4 ribu ekor, semua modal sudah kembali dalam waktu enam bulan. Omzetnya sangat tinggi,” kata Dewi. Kini, Dewi semakin tekun memelihara telur puyuh. Sekalipun cukup sulit, hasilnya sepadan. Memelihara puyuh petelur itu sulit, karena tergolong ternak sensitif. Mudah tertular penyakit dan stres. “Kalau mendengar suara keras yang mendadak, puyuh bisa stres. Tapi dengan kandang yang tertutup dan dibersihkan setiap hari, semua kendala itu tidak bermasalah,” jelas Dewi, seraya mengimbuhkan karena itu pula dirinya melarang orang lain untuk bisa mauk ke kandang. Selain keuntungan dari telur puyuh. Dewi juga masih memperoleh keuntungan lain dari penjualan kotoran puyuhnya. Dari 4 ribu ekor puyuh, dalam sehari menghasilkan kotoran sebanyak 3 ember. “Satu ember kotoran puyuh yang masih basah laku terjual sebesar seribu rupiah,” katanya.
Sedangkan dari puyuhnya sendiri, kadang juga masih bisa diperoleh sedikit keuntungan lagi. Setahun, sekali, puyuh yang sudah tidak produktif dijual seharga Rp. 2.500/ekor dan diganti puyuh usia 3 minggu. “Puyuh akan mulai bertelur pada usia 60 hari dan mencapai puncak produktivitasnya pada usia 10 bulan,” pungkasnya.
Sumber : kertasbiasa.blogspot.com

TKI Kalsel Sukses Jadi Pengusaha Sawit

Berita Daerah-Kalimantan), Sore itu udara di areal persawahan di Pantai Hambawang, Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalsel cukup panas. Langit cerah tanpa awan, baju kaos lengan panjang yang membungkus tubuh lelaki berkulit sawo matang basah oleh keringat. Sambil duduk di pematang sawah, wajah Sunarto, terlihat serius memegang joran yang dibuat dari bambu.

Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tahun 90-an itu mulai tersenyum ketika merasakan tali senarnya kencang karena umpannya disambar ikan.
Uh...Uh... kena..! kata Narto seraya mengangkat joran.
Seekor ikan gabus sebesar lengan tangan menggelepar terkena pancing setelah mematuk umpan dari ulat bumbung.
"Alhamdulillah, lumayan sudah dapat dua ekor ikan gabus," kata lelaki asal Lamongan Jawa Timur itu.
Sunarto mengaku Memancing, adalah kegiatan untuk mengisi waktu selepas menanam padi.
Bagi bapak dua anak itu, memancing juga bisa menjadi sarana untuk mencari inspirasi dan menambah ilmu pengetahuan melalui membaca buku-buku tentang berkebun kelapa sawit.
Memancing merupakan kebiasaan yang dilakukan Sunarto setelah pulang dari "Negeri Jiran" Malaysia menjadi TKI yang diperkerjakan di bangunan gedung dan apartemen.
Tiga setengah tahun Sunarto berjibaku dengan alat berat di Malaysia membangun beberapa apartemen dan gedung bertingkat.
Selama merantau, gaji yang diterima dikirimkan kepada keluarganya, terutama kedua orangtuanya di Lamongan untuk keperluan hidup sehari-hari dan sebagian dibelikan sapi.
Sedikitnya enam ekor sapi yang berhasil dibeli selama Sunarto menjadi TKI di negeri Jiran Malaysia.
Diujung masa kontraknya berakhir, Sunarto pulang ke kampung halamannya di Lamongan.
Selain rindu kepada kedua orangtua, keluarga dan teman-temannya, kepulangannya ke Indonesia juga karena surat dari teman dekat yang masih setia menunggu di Pantai Hambawang, Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalsel.
Setelah melepas kerinduan dengan orangtua, dan keluarganya di Lamongan, Sunarto mendatangi Norafiah, teman dekatnya semasa bersama-sama menjadi karyawan pabrik plywood PT Basirih di Banjarmasin 1993.
Tujuanya tidak lain dan tidak bukan, hanyalah ingin meminang Norafiah kepada orangtuanya di Barabai.
Tidak membuang-buang waktu, lulusan SMA Sambeng, Lamongan itu melangsungkan pernikahannya dengan perempuan berambut ikal dan berkulit sawo matang.
Tahun pertama menjadi warga Barabai, Sunarto mengaku, canggung dan merasa serba salah apa yang akan dikerjakan, bertani atau berdagang.
Meski dilahirkan dari keluarga petani, Sunarto masih belum siap untuk menjadi petani seperti nenek moyangnya.
Saat berkunjung ke tempat keluarganya di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, Sunarto sempat ditawari kerabatnya untuk membeli sebidang lahan kosong seharga kurang dari Rp5 juta.
Meski dalam hatinya masih ragu, Sunarto tetap menyetujui tawaran tersebut.
"Itung-itung membantu keluarga," kata Sunarto mengenang.
Dalam perjalannya, Sunarto memutuskan hidup di Kota Kotabaru.
Ia bersama istrinya boyongan dari Barabai, ke Kotabaru untuk mengadu nasib bersama keluarga yang lainnya.
Untuk menghidupi keluarganya, Sunarto mengisi hari-harinya dengan mengayuh becak di Kota Kotabaru.
Sunarto berkeyakinan, hanya dengan ijazah SMA, tidak banyak yang bisa dilakukan, terlebih untuk menjadi pegawai negeri.
"Makanya saat itu saya langsung membeli becak agar tidak menyewa," kata Sunarto yang kini telah dikarunia dua orang putri.
Di sebuah petakan rumah berukuran 10 meter X 4 meter di sebuah gang buntu, Sunarto mengawali perjuangannya di Kota Kotabaru.
Dari sebagian uang hasil menarik becak suaminya, Norafiah kumpulkan untuk ditabung.
"Selama saya di Kotabaru sering didatangi warga yang akan menjual lahan, dan saat itu pula saya tidak bisa menolak dan langsung saya beli," ujarnya.
Ia selanjutnya memutuskan untuk menjual sapi yang sudah menjadi delapan ekor itu untuk membeli kebun kelapa sawit di Kelumpang Selatan Kotabaru.
Sedikitnya lima paket, atau sekitar 10 hektare kebun kelapa sawit yang sudah dibeli Sunarto dari hasil menjadi TKI di Malaysia.
"Kebun-kebun sawit itu kini telah menghasilkan," ujar Sunarto.
Dari hasil kebun kelapa sawit itu pula, Sunarto kini telah memiliki beberapa hektare sawah di Barabai, untuk ditanami padi dan palawija.
Jadi Miliaran Rupiah.
Selain ditabung, hasil kebun sawit juga digunakan untuk membantu keluarganya yang mengalami kesulitan.
Baginya, hidup adalah perjuangan, dan kesuksesan adalah apabila bisa membantu orang lain menjadi lebih baik.
Meski hasil kebun sawitnya berfluktuatif, Sunarto tetap optimistis bahwa berkebun kelapa sawit menjadi usaha yang paling aman dan bisa diandalkan dibandingkan dengan usah yang lainnya.
"Berkebun sawit tidak ada pesaingnya, bahkan semakin banyak teman menanam kelapa sawit akan semakin baik," tuturnya.
Karena hamanya berkurang.
Berbeda dengan berdagang atau yang lainnya, jika ada orang yang sama-sama berusaha jenis yang sama, maka akan menjadi pesaing yang mengancam.
Selama berkebun sawit, Sunarto bisa pergi kemana-mana, tanpa harus memperhatikan kebun atau khawatir kebun akan terbengkalai.
Karena kebun kelapa sawit Sunarto dikelola Koperasi Unit Desa (KUD) Gajah Mada yang bekerjasama dengan PT Sinar Kencana Inti Perkasa (SKIP) dengan pola plasma.
Dalam kondisi baik, setiap bulan, Sunarto mendapatkan hasil dari kebunnya kisaran Rp10.000.000.
Ia mengaku sangat hati-hati dalam mengelola hasil kebun kelapa sawit. "Kami bercita-cita anak-anak kami yang masih kecil ini bisa sekolah setinggi-tingginya agar tidak seperti bapaknya sampai menjadi TKI hanya untuk mempertahankan hidup," harapnya.
Untuk mengembangkan usahanya agar tidak sampai disitu saja, Sunarto berencana untuk membuka usaha yang lainnya.
"Ya seperti mobil, harus ada ban serep, sewaktu-waktu ban kempes, kita bisa menggantinya dengan ban serep," terangnya.
Sewaktu-waktu usaha sawit menurun, harus sudah ada usaha yang bisa menopang.
Yang terpenting mumpung masih kuat dan sehat, kita ciptakan pundi-pundi pendapatan sebanyak-banyaknya, agar ketika tenaga sudah berkurang semuanya bisa jalan.
Sunarto mengimbau kepada TKI untuk berhati-hati dalam mengelola uang. Ia berpesan jangan sampai uang gaji itu digunakan untuk membangun rumah terlebih berfoya-foya.
"Betapa ruginya menjadi TKI berpisah dengan keluarga, setelah mendapatkan hasil digunakan untuk berfoya-foya," pesan dia.
Oleh karenanya, gunakan uang gaji untuk berinvestasi untuk masa depan keluarga dan semuanya.
Mungkin uang gaji yang dikumpulkan selama menjadi TKI jumlahnya hanya puluhan juta.
Namun setelah dibelikan kebun kelapa sawit, asset Sunarto yang dulu awalnya kurang dari limapuluh juta Rupiah itu kini telah menjadi miliaran rupiah.
Sumber : beritadaerah.com
-----------------------------------------------------<(())>-----------------------------------------------------

Lowongan Kerja Kontruksi Malaysia BIAYA GRATIS

  • Gaji pokok                 : RM 40/hari (Sekitar 3.5 juta perbulan), belum termasuk lembur.
  • Kontrak kerja            : 2 tahun (bisa memperpanjang)
  • Permit / levi                : Di tanggung TKI sekitar RM 1250 setahun.
  • Biaya proses              : 1 Juta Rupiah. Bisa Gratis (potong Gaji) dengan ketentuan ada jaminan.
  • Potongan  biaya        : RM 450 x 4 Bulan (Sekitar Rp 1.5 juta selama 4 bulan).
  • Persyaratan                : Usia min 18 tahun, maksimal 40 tahun
  • Fasilitas                      : Asrama di sediakan. 
  • Makan                         : Makan biaya sendiri perbulan sekitar RM 200.
  • Pekerjaan & daerah   : Membangun pabrik di daerah Johor.
Proses di Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur
Informasi Lebih Lanjut Silahkan langsung Telepon Ke HP "Pak Agus Asrori "


Maaf Kami Tidak Melayani SMS
Karena Banyaknya Peminat Kami tidak Bisa membalas SMS.
HP : 081 235 491 898 (Simpati).
HP : 087 858 111 096 (XL).
HP : 0856 0802 8600 (IM3) 


Karena Banyaknya Penelpon, Jika Telepon Tidak Menyambung Silahkan Mengulang Telepon Lagi.

Lina Marlina : Kisah Manis TKI Sukses di Singapura

Sudah 10 tahun ini Lina Marlina (30), bekerja sebagai TKI Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) di Singapura. Tentunya banyak pengalaman dan pengatahuan yang ia dapatkan. Meski masih bekerja, Lina Marlina sudah bisa menui sukses.Kini ia sudah memiliki usaha yang dijalankan adiknya di Ciamis, Jawa Barat. Ia juga memiliki sebuah mobil untuk menjalankan usahanya.

Selama bekerja di Singapura, Lina sapaan akrabnya, tidak hanya bekerja sebagai TKI. Di waktu luangnya, ia mempunyai aktivitas bersama temen-temen TKI lainnya. Kadang ia mengisi waktu luangnya dengan belajar Entrepreneurship atau kursus kecantikan.

“Kami diajarkan untuk menjadi wirausaha. Jadi tak selamanya kami jadi TKI di negeri orang,” tukas Lina yang berasal dari Ciamis, Jawa Barat beberapa waktu lalu.

Banyak pelajaran yang didapatkan oleh Lina dari kelas Entrepreneurship yang diadakan seminggu sekali. “Kami diajari untuk memiliki target dan rencana bisnis. Juga diberi tahu pentingnya menabung untuk diri sendiri, untuk masa depan. Intinya untuk merubah jalan hidup,” ujar sulung dari tiga bersaudara ini.

Bersama 50-an TKI lainnya, setiap hari Minggu Lina dengan tekun menyimak pelajaran Entrepreneurship yang diadakan oleh yayasan non-profit Media Transformation Ministry Ltd. (MTM) bekerjasama dengan Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) dan Martha Tilaar itu.

Dengan bekal pengetahuan dan pelajaran itu hasilnya sekarang Lina sudah mempunyai usaha sendiri.

“Sekarang saya sudah punya usaha yang dijalankan oleh adik di Rawaapu, Cilacap, Jawa Tengah,” paparnya

Untuk mendukung usahanya itu, Lina juga sudah mengkredit sebuah mobil bak untuk memasok kayu bakar kepada perajin gula dan batu bata di daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah tersebut.

Ke depannya, Lina mengaku ingin mengembangkan usaha depot air minum dan restoran sendiri.

“Tapi itu rencana tiga tahun lagi. Sekarang saya masih mengumpulkan modal. Sekalian menyelesaikan kelas entrepreneurship dan mengambil program diploma,” ujarnya tegas. (Hapipi)

-------------------------------------------------------------------------------
Lowongan kerja sebagai PLRT (Penata Laksana Rumah Tangga) di negara Singapura dengan biaya GRATIS (potong gaji) dengan ketentuan sebagai berikut:


  • Non GAJI SGD 450 = kurang lebih Rp 4.000.000,-
  • Eks GAJI SGD 530 = kurang lebih Rp 4.500.000,-
  • Biaya Gratis Sistem Potong Gaji
  • Potongan 8 bulan x SGD 25
  • Selama potonga gaji masih mendapat gaji sekitar 1.5 juta rupiah.
  • BLK rata-rata 3 Bulan langsung berangkat, yang sudah Eks Singapura bisa tunggu dirumah.
  • Uang saku besar.
Proses di Jakarta - Jawa Tengah - Jawa Timur - Lampung.
Informasi Lebih Lanjut Silahkan langsung Telpon Ke HP "Pak Agus"


Maaf Kami Tidak Melayani SMS
Karena Banyaknya Peminat Kami tidak Bisa membalas SMS.


HP : 081 235 491 898 (Simpati).
HP : 087 858 111 096 (XL).
HP : 0856 0802 8600 (IM3).


Karena Banyaknya Penelpon, Jika Telepon Tidak Menyambung Silahkan Mengulang Telepon Lagi.

Perjalanan Sukses TKI Jadi Artis "Duo Sabun Colek"

Nama grup vokal dangdut, Duo Sabun Colek belakangan melejit di jagat hiburan Tanah Air. Duo Sabun Colek yang beranggotakan Dina dan Kiki semakin sering tampil di stasiun televisi.

Meski terhitung baru, Dua Sabun Colek juga berhasil meraih penghargaan dalam ajang Dahsyat Awards mengalahkan senior mereka, Inul Daratista dan Zaskia Gotik. Lewat single Gatal, Gatal, Gatal mereka mulai mencuri perhatian publik.

Paras menawan dan suara merdu bukan satu-satunya modal Dina serta Kiki meraih kepopuleran. Perjalanan hidup mereka yang terbilang unik justru jadi daya tarik.

Pada tahun 2009, Dina dan Kiki pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Selang dua tahun kemudian, keduanya berangkat ke Hong Kong untuk menjadi TKI.

“Dahulu kami satu majikan,” ujar Kiki.

Garis tangan keduanya berubah saat band Wali menggelar konser di Hong Kong pada tahun 2011. Kebetulan, Dina menjadi salah satu penontonnya. Pesona Dina membuat seorang produser bernama Sujana tertarik untuk merekrutnya sebagai aktris.

Namun,  Dina tak langsung tergoda. Ia sadar tak memiliki bakat dan kemampuan. Di sisi lain, Sujana dan sang istri, Feby terus meyakinkan Dina bahwa ia bisa sukses menjadi artis. Dina akhirnya menyerah. Pada Desember 2012, ia berkunjung ke kantor Sujana.

“Dari situlah Dina yakin karena ada foto-foto band Wali, Kangen Band dan baru itu aku diyakinkan jadi aktris,” ujarnya.

Dina kemudian menjalani tes nyanyi. Rupanya suara Dina membuat Sujana berubah pikiran. Ia menilai, Dina lebih cocok menjadi penyanyi dangdut ketimbang aktris.

Dengan kemampuan menyanyi terbatas, Dina mengaku tidak percaya diri. Ia akhirnya mengajak Kiki untuk menjadi partner duet. Sebelum muncul ke publik, Kiki dan Dina dibekali latihan olah vokal, koreografi, dan fesyen.

“Semua sudah dibungkus sama manajemen,” ucap Dina.

Album Duo Sabun Colek dirilis pada Maret tahun lalu. Penghasilan Dina dan Kiki berubah drastis. Jika saat masih menjadi pembantu mereka hanya meraup Rp1-2 juta per bulan kini Dina dan Kiki bisa mengantongi bayaran Rp30 juta untuk sekali tampil.

Rezeki yang mereka peroleh tak lantas dihambur-hamburkan. Kiki misalnya. Ia menggunakan penghasilannya untuk menebus surat rumah  keluarganya yang sempat disita.

“Kalau aku dari hasil kerja bernyanyi aku bisa bantu berobat orangtua dan menyekolahkan adik,” kata Dina.

------------------------------------------------------------------

Lowongan kerja sebagai PLRT (Penata Laksana Rumah Tangga) di negara Hong Kong dengan biaya GRATIS (potong gaji) dengan ketentuan sebagai berikut:

  • GAJI HK $ 4.110 = kurang lebih Rp 6.000.000,-
  • Biaya Gratis Sistem Potong Gaji
  • Potongan 6 bulan x HK $ 2.145 ( sekitar Rp 3.2 juta selama 6 bulan)
  • Selama potonga gaji masih mendapat gaji sekitar 2.8 juta rupiah.
  • BLK rata-rata 3 Bulan langsung berangkat.
  • Uang saku besar.
    Proses di Jakarta - Jawa Tengah - Jawa Timur - Lampung.
    Informasi Lebih Lanjut Silahkan langsung Telpon Ke HP "Pak Agus"


    Maaf Kami Tidak Melayani SMS
    Karena Banyaknya Peminat Kami tidak Bisa membalas SMS.


    HP : 081 235 491 898 (Simpati).
    HP : 087 858 111 096 (XL).
    HP : 0856 0802 8600 (IM3).


    Karena Banyaknya Penelpon, Jika Telepon Tidak Menyambung Silahkan Mengulang Telepon Lagi.


    http://www.pjtkiresmionline.com/2014/05/tkw-plrt-hongkong-prt-beby-sitter.html